JAKARTA, Harianmuria.com – Kisah sukses purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) Mimin Mintarsih menjadi bukti bahwa pengalaman bekerja di luar negeri tidak berhenti pada saat kepulangan.
Bekal keterampilan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama menjadi PMI mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di kampung halaman melalui konsep brain circulation, yakni kembalinya pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan di dalam negeri.
Berasal dari Kampung Cirangkong, Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Mimin Mintarsih kini dikenal sebagai pelaku usaha TRI R. Biji Ketapang, produk olahan pangan yang telah dipasarkan melalui berbagai toko dan outlet UMKM.
Usaha yang dirintisnya tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya.
Perjalanan Mimin dimulai ketika kembali ke Indonesia pada 2003. Berbekal tabungan hasil bekerja di Arab Saudi, ia membangun usaha kecil, kemudian merintis usaha konveksi sebelum akhirnya pada 2010 mendirikan kelompok usaha bersama yang berkembang menjadi produk olahan biji ketapang dengan merek TRI R.
Setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan BP2MI pada 2017, kapasitas usahanya semakin meningkat, baik dari sisi manajemen, pemasaran, maupun pengembangan produk. Informasi pada profilnya juga menunjukkan bahwa usahanya terus berkembang melalui berbagai jejaring pemasaran modern dan kemitraan UMKM.
Keberhasilan tersebut mencerminkan esensi brain circulation. Migrasi kerja tidak hanya menghasilkan remitansi dalam bentuk finansial, tetapi juga menghadirkan transfer pengetahuan, keterampilan, etos kerja, serta pengalaman internasional yang dapat dikembangkan menjadi usaha produktif setelah kembali ke Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan perekonomian daerah.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong semakin banyak purna PMI menjadi motor penggerak ekonomi nasional melalui pemanfaatan kompetensi yang mereka peroleh selama bekerja di luar negeri.
“Pekerja migran Indonesia bukan hanya pahlawan devisa. Mereka adalah sumber daya manusia yang membawa pulang pengalaman, keterampilan, dan jejaring internasional. Inilah yang kami sebut sebagai brain circulation. Negara berkepentingan memastikan ilmu dan pengalaman tersebut dapat dikonversi menjadi usaha produktif, lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah asal,” ujarnya.
Menurut Mukhtarudin, keberhasilan Mimin Mintarsih menunjukkan bahwa investasi terbesar dari migrasi aman dan prosedural bukan hanya remitansi, melainkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang semakin unggul.
“Kisah Ibu Mimin membuktikan bahwa ketika negara mampu menghadirkan ekosistem pemberdayaan yang baik, purna PMI dapat tumbuh menjadi wirausaha, membuka lapangan pekerjaan, dan menginspirasi masyarakat di sekitarnya. Kami ingin semakin banyak kisah sukses seperti ini lahir dari berbagai daerah di Indonesia,” tandasnya.
Melalui berbagai program pemberdayaan purna PMI, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia terus mendorong terciptanya ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan agar kepulangan pekerja migran menjadi awal dari babak baru pembangunan ekonomi keluarga dan daerah.
Kisah Mimin Mintarsih menjadi gambaran bahwa migrasi yang aman, terampil, dan terkelola dengan baik mampu menghasilkan manfaat yang jauh melampaui remitansi, yaitu lahirnya agen-agen pembangunan yang membawa perubahan nyata bagi Indonesia.
Penulis: Amelia Erisanna











