JAKARTA, Harianmuria.com – Kisah Ai Sunarsih menjadi bukti bahwa kepulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) tidak hanya membawa cerita perjuangan, tetapi juga membawa pengetahuan, pengalaman, dan semangat kewirausahaan yang mampu menggerakkan ekonomi di kampung halaman.
Perjalanan Ai merupakan contoh nyata bagaimana konsep brain circulation dapat diwujudkan melalui pemberdayaan purna PMI.
Berangkat sebagai PMI ke Arab Saudi pada 1988, Ai Sunarsih menghabiskan lebih dari dua dekade bekerja di luar negeri demi meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Setelah kembali ke Indonesia, ia sempat mengembangkan usaha peternakan sapi perah sebelum kembali bekerja ke Arab Saudi pada 2014.
Sekembalinya ke tanah air, titik balik hidupnya terjadi ketika mengikuti pelatihan kewirausahaan dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) pada 2019.
Dari pelatihan tersebut lahirlah Ligora Yoghurt, usaha pengolahan susu menjadi yoghurt yang kini berkembang menjadi sumber penghidupan bagi keluarga sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Konsep brain circulation merupakan pendekatan pembangunan yang menempatkan pengalaman, keterampilan, jaringan, dan pengetahuan yang diperoleh pekerja migran selama bekerja di luar negeri sebagai modal pembangunan ketika mereka kembali ke Indonesia.
Dengan demikian, migrasi tidak berhenti pada pengiriman tenaga kerja, tetapi menjadi proses transfer pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Ligora Yoghurt menjadi contoh konkret dari konsep tersebut. Berbekal pengalaman hidup, etos kerja, dan semangat belajar selama menjadi PMI, Ai Sunarsih mampu mengolah peluang menjadi usaha produktif.
Produk yoghurt yang dihasilkan menggunakan susu berkualitas, dipasarkan melalui warung dan sekolah, serta memiliki beragam varian rasa yang diminati masyarakat.
Perkembangan usahanya juga menunjukkan dampak ekonomi yang nyata. Modal usaha yang semula sekitar Rp1 juta telah berkembang menjadi sekitar Rp10 juta.
Usaha tersebut kini mempekerjakan enam orang karyawan, didukung jaringan pedagang di sekitar wilayahnya, serta memberikan manfaat sosial dengan mendorong perempuan untuk berwirausaha melalui produk pangan lokal yang berkualitas.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menegaskan bahwa pemerintah ingin semakin banyak kisah sukses seperti Ai Sunarsih lahir di berbagai daerah di Indonesia.
“Pekerja Migran Indonesia tidak hanya mengirim devisa bagi negara, tetapi juga membawa pulang ilmu, pengalaman, disiplin kerja, dan jejaring internasional. Inilah yang kami sebut sebagai brain circulation. Negara harus memastikan seluruh pengalaman tersebut dapat diubah menjadi usaha produktif, lapangan kerja baru, dan sumber pertumbuhan ekonomi daerah," katanya.
"Kisah Ibu Ai Sunarsih membuktikan bahwa kepulangan PMI dapat menjadi awal lahirnya wirausaha yang memberi manfaat bagi masyarakat,” sambung Mukhtarudin.
Menurutnya, transformasi purna PMI menjadi pelaku usaha merupakan bagian penting dari upaya pemerintah membangun migrasi yang aman sekaligus berkelanjutan.
Keberhasilan seorang purna PMI tidak hanya diukur dari keberhasilan bekerja di luar negeri, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan nilai tambah setelah kembali ke Indonesia.
Ai Sunarsih sendiri berharap Ligora Yoghurt dapat terus berkembang sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas, menginspirasi lebih banyak PMI untuk berwirausaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerahnya.
Melalui kisah seperti Ligora Yoghurt, KP2MI terus mendorong lahirnya lebih banyak purna PMI yang mampu menjadi agen pembangunan di daerah asalnya.
Pengalaman internasional yang dimiliki para pekerja migran merupakan aset bangsa yang harus dimanfaatkan melalui penguatan kapasitas, pelatihan kewirausahaan, akses pembiayaan, serta pendampingan usaha sehingga manfaat migrasi dapat dirasakan tidak hanya oleh keluarga PMI, tetapi juga oleh masyarakat dan perekonomian nasional.
Penulis: Amelia Erisanna











