SEMARANG, Harianmuria.com – Gubernur Ahmad Luthfi memastikan cadangan air bersih bisa mencukupi setiap daerah di Jawa Tengah yang mengalami kekeringan. Hal ini ia sampaikan dalam rapat pengendalian operasional kegiatan (POK) dengan kepala OPD, BUMD, dan BLUD di kantornya, Senin, 27 Juli 2026.
“Seluruh kepala daerah sudah saya minta untuk melakukan mitigasi, memetakan daerah rawan, dan menyiapkan langkah antisipasi. Intinya kebutuhan air bersih masih cukup, tinggal distribusi ya,” katanya.
Dalam rapat itu, Luthfi meminta kepada dinas terkait agar memperhatikan distribusi air guna mengaliri lahan pertanian masyarakat. Mengingat target produktivitas padi di Jawa Tengah tahun 2026 ini meningkat dari tahun sebelumnya.
“Kemarin saya sudah ajukan ke Menteri Pertanian untuk bantuan pompa air. Sudah disetujui, tinggal nanti Dinas Pertanian dan Peternakan menindaklanjuti agar bisa segera dikirim,” kata Luthfi.
Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut secara rinci, hingga tanggal 24 Juli 20206, sebanyak 6,8 juta liter air bersih telah disalurkan ke daerah-daerah terdampak kekeringan.
Ia menuturkan distribusi air bersih yang anggarannya bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten/kota telah mencapai 4.853.800 liter.
“Sementara bantuan dari CSR, PMI, TNI-Polri, dan instansi lainnya sekitar 1.951.500 liter air bersih. Total penerima manfaat distribusi air bersih sekitar 61.139 KK dengan jumlah 184.643 jiwa. Tiga daerah dengan distribusi air bersih terbanyak adalah Kabupaten Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara,”sebutnya.
Bergas menegaskan sampai saat ini cadangan air bersih masih tercukupi. Selain itu bantuan dari TNI dan Polri juga menjadi tambahan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kelangkaan air bersih selama musim kemarau.
“Masih ada sisa ketersediaan air bersih sekitar 40 juta liter dari total 44,9 juta liter yang disediakan oleh APBD Kabupaten/Kota. Terkait dengan air bersih ini masih mumpuni karena ketersediaan anggaran maupun air bersihnya masih tersedia,” kata Bergas.
Menurut Bergas, bencana kekeringan seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) paling banyak terjadi di lahan pertanian, terutama lahan tebu. Total kerugian akibat karhutla diperkirakan mencapai Rp607 juta, sedangkan kerugian akibat kebakaran gedung dan rumah mencapai sekitar Rp27 miliar.
“Karhutla ini yang perlu terus diantisipasi oleh pemerintah daerah selama musim kemarau,” pungkasnya.
Jurnalis: Rizky Syahril
Editor: Tia











