SEMARANG, Harianmuria.com – Sebanyak enam warga Kota Semarang tercatat meninggal dunia akibat penyakit leptospirosis tahun ini. Penyakit yang ditularkan melalui bakteri dari urine tikus itu banyak ditemukan di kawasan permukiman padat yang kerap terdampak banjir dan rob.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, M Abdul Hakam, mengatakan angka kematian akibat leptospirosis telah diprediksi meningkat sejak akhir 2025. Hingga Juli 2026, tercatat enam kasus meninggal dunia.
“Mortalitas sudah kami prediksi sejak akhir tahun kemarin. Sampai Juli ini sudah enam kasus yang meninggal karena ditularkan oleh kuman dari tikus, biasanya terjadi di wilayah yang sering terkena banjir dan rob,” ujarnya, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurut Hakam, Dinkes bersama puskesmas dan lintas sektor terus melakukan berbagai upaya pencegahan agar penyebaran leptospirosis tidak semakin meluas. Salah satunya melalui gerakan pemberantasan tikus di wilayah yang berisiko tinggi.
“Bersama pemangku wilayah kita lakukan gerakan pemberantasan tikus di wilayah yang berpotensi menyebarkan penyakit leptospirosis,” katanya.
Ia menjelaskan, bakteri leptospira yang dibawa tikus dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau kontak dengan air yang telah terkontaminasi. Infeksi ini berpotensi menjadi fatal, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.
“Kalau tidak segera ditangani, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi pada ginjal, jantung, hingga organ lainnya yang berisiko tinggi menyebabkan kematian,” tuturnya.
Jurnalis: Syahrul Muadz
Editor: Tia











