BLORA, Harianmuria.com – Rencana penyaluran hibah 30.000 buku dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) ke puluhan perpustakaan di Kabupaten Blora pada 2026 berpotensi tertunda. Kondisi tersebut dipicu kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang berdampak pada pemangkasan anggaran Perpusnas.
Anggaran Perpusnas RI yang sebelumnya mencapai sekitar Rp721 miliar pada 2025 berkurang menjadi sekitar Rp377 miliar pada 2026. Dampaknya, sejumlah program bantuan, termasuk hibah buku untuk daerah, belum dapat dipastikan pelaksanaannya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Blora, Mohamad Toha Mustofa, mengaku menyayangkan kemungkinan tertundanya program tersebut. Menurutnya, bantuan buku sangat dibutuhkan untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat, terutama di tingkat desa.
“Sebenarnya kita eman (menyayangkan) ya, dalam arti ini (bantuan buku) sangat membantu masyarakat untuk berliterasi. Sehingga kita sudah mengusulkan harapannya buku bisa sampai ke desa, bisa dibaca masyarakat, tentunya ini cukup eman,” ujar Toha, Senin, 27 Juli 2026.
“Harusnya kita bisa membantu meningkatkan, tingkat pembangunan literasi di masyarakat, mungkin ini (tahun 2026) agak tertunda,” sambungnya.
Toha menjelaskan, DPK Blora setiap tahun mengusulkan lokasi penerima hibah buku kepada Perpusnas RI. Pada 2024 terdapat 25 titik yang diusulkan, kemudian meningkat menjadi 30 titik pada 2025. Untuk program 2026, kembali diajukan sebanyak 30 titik, namun realisasinya masih belum memperoleh kepastian.
“Untuk tahun 2026 ini pengajuannya kan di 2025 akhir. Ini ada kemungkinan program itu tidak terealisasi. Karena sampai hari ini, masih koordinasi terkait permohonan ke Perpusnas menindaklanjuti usulan, kemarin belum ada informasi,” jelasnya.
Ia mengatakan apabila bantuan tersebut tidak terealisasi, perpustakaan desa, perpustakaan tempat ibadah, taman belajar masyarakat (TBM), hingga perpustakaan puskesmas yang telah diusulkan dipastikan belum akan menerima tambahan koleksi buku pada tahun ini.
Menurut Toha, setiap titik penerima bantuan direncanakan memperoleh 1.000 eksemplar buku. Dengan 30 lokasi yang diusulkan, sekitar 30.000 buku diperkirakan tertunda penyalurannya.
“Buku yang masuk ke Kabupaten Blora itu diperkirakan satu titik 1.000 buku, kalau 30 titik 30.000 buku, tertunda tahun ini,” katanya.
Ia menambahkan, sebagian besar usulan berasal dari perpustakaan desa. Menurutnya, untuk memperoleh bantuan hibah, calon penerima harus memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari memiliki ruang perpustakaan, pengelola, komitmen pemerintah desa atau penerima manfaat, hingga koleksi buku yang sudah tersedia.
“Harapnya (kita) desa-desa yang belum memiliki perpustakaan desa berkeinginan membangun perpustakaan desanya,” kata Toha.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











