BLORA, Harianmuria.com – Sebanyak 69 hektare lahan sawah di Kabupaten Blora mulai terdampak kekeringan akibat musim kemarau tahun 2026. Kondisi tersebut membuat Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora melakukan langkah antisipasi terhadap ancaman gagal panen atau puso, terutama di wilayah pertanian tadah hujan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Peternakan (TPHPP) DP4 Blora, Sukandar, mengatakan dampak kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah pertanian. Upaya penanganan melalui bantuan pompa air masih menghadapi kendala karena terbatasnya ketersediaan sumber air permukaan.
“Semua wilayah mengalami kekeringan sehingga pasokan air untuk areal persawahan semakin terbatas. Kondisi terparah berada di Kecamatan Kunduran dan Ngawen,” kata Sukandar, Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian khusus karena sebagian lahan pertanian di Blora masih bergantung pada curah hujan.
Ia mengatakan apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang, tanaman padi pada musim tanam ketiga (MT III) di wilayah tadah hujan berpotensi mengalami puso.
“Musim tanam ketiga di wilayah tadah hujan memang sangat rentan mengalami gagal panen jika kemarau terus berlanjut,” ujarnya.
Untuk mengurangi risiko kerugian petani, DP4 Blora mendorong keikutsertaan petani dalam Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Program tersebut dinilai dapat memberikan perlindungan apabila terjadi gagal panen akibat bencana, termasuk kekeringan.
Selain itu, pihaknya juga menyiapkan rencana pengajuan bantuan benih bagi petani yang terdampak untuk mendukung persiapan musim tanam pertama (MT I) berikutnya.
“Kami terus mensosialisasikan AUTP sebagai perlindungan bagi petani. Untuk musim tanam berikutnya juga akan diusulkan bantuan benih bagi wilayah yang terdampak,” katanya.
Sukandar menambahkan, berdasarkan prakiraan musim tahun 2026, periode kemarau masih berpotensi berlangsung hingga Oktober bahkan November.
Oleh karena itu, petani di kawasan tadah hujan diminta menyesuaikan strategi tanam dengan memilih tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi minim air.
“Kami merekomendasikan petani di wilayah tadah hujan menanam varietas super genjah atau komoditas lain yang kebutuhan airnya lebih rendah agar risiko kerugian dapat ditekan,” tutupnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











