JAKARTA, Harianmuria.com – Kisah Darwinah, purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Indramayu, Jawa Barat, menjadi bukti nyata bahwa bekerja di luar negeri tidak hanya menghasilkan remitansi, tetapi juga membawa pulang pengetahuan, keterampilan, jejaring, serta semangat kewirausahaan yang mampu menggerakkan ekonomi di kampung halaman.
Perjalanan Darwinah mencerminkan praktik brain circulation, yakni kembalinya sumber daya manusia Indonesia dengan membawa pengalaman dan kompetensi yang kemudian dimanfaatkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Berbekal pengalaman bekerja di Hong Kong dan tabungan yang dikumpulkan selama menjadi PMI, Darwinah kembali ke Indonesia pada 2008 dengan tekad membangun masa depan bersama keluarga.
Ia kemudian mendirikan Rumah Edukasi Kenanga yang berfokus pada pendidikan keagamaan dan menyediakan perpustakaan gratis bagi anak-anak, termasuk anak-anak pekerja migran. Hingga kini, kegiatan belajar tersebut terus berjalan dan telah memberi manfaat bagi ratusan anak.
Semangat tersebut terus berkembang. Pada 2010, Darwinah mulai merintis usaha pengolahan mangga khas Indramayu menjadi berbagai produk bernilai tambah melalui merek Winn’AH.
Berawal dari modal sekitar Rp200 ribu dan dapur sederhana, usaha itu kini menghasilkan aneka produk seperti jus, sirup, dodol, keripik, hingga makanan olahan lainnya yang telah dipasarkan secara ritel, melalui platform daring, bahkan menjangkau pasar ekspor.
Perjalanan usaha Darwinah menunjukkan bahwa pengalaman kerja di luar negeri tidak berhenti sebagai pengalaman individual, melainkan bertransformasi menjadi inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi lokal.
Inilah esensi brain circulation: perpindahan pengetahuan dan keterampilan yang kembali ke tanah air untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Selain mengembangkan usahanya, Darwinah juga aktif membuka kelas kewirausahaan gratis bagi para purna PMI dan keluarga PMI. Hingga saat ini, ribuan peserta telah mengikuti pendampingan yang ia lakukan.
Komitmennya adalah membantu semakin banyak pekerja migran kembali ke Indonesia dengan bekal kemampuan membangun usaha mandiri dan berkelanjutan.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menegaskan bahwa pemerintah ingin semakin banyak kisah sukses seperti Darwinah lahir dari berbagai daerah di Indonesia.
“Pekerja migran Indonesia bukan hanya pahlawan devisa, tetapi juga aset sumber daya manusia yang memiliki pengalaman, keterampilan, dan jejaring internasional. Ketika mereka kembali ke tanah air, pengetahuan tersebut harus menjadi kekuatan baru untuk membangun ekonomi keluarga, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing bangsa. Inilah semangat brain circulation yang terus didorong oleh Kementerian P2MI,” ujarnya.
Mukhtarudin menambahkan bahwa pemerintah terus memperkuat berbagai program pemberdayaan bagi purna PMI agar pengalaman bekerja di luar negeri dapat dikonversi menjadi usaha produktif, inovasi, maupun kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Kisah Darwinah menjadi gambaran bahwa migrasi yang aman dan terkelola dengan baik mampu menghasilkan dampak jangka panjang. Pengalaman internasional yang dibawa pulang tidak hanya mengubah kehidupan individu, tetapi juga menjadi modal pembangunan daerah melalui tumbuhnya wirausaha baru, meningkatnya nilai tambah produk lokal, serta terbukanya kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Melalui makin banyaknya contoh seperti Darwinah, pemerintah berharap paradigma mengenai pekerja migran tidak lagi berhenti pada remitansi semata. Pengalaman, kompetensi, dan jejaring global yang mereka miliki merupakan investasi sumber daya manusia yang dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional apabila dikelola dan didukung secara berkelanjutan.
Penulis: Amelia Erisanna










