• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Jumat, Oktober 16, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

NgAllah Suluk Maleman: Kita, Agama dan Kuasa

ulfa puspa by ulfa puspa
25 Mei 2026
in Artikel, Highlight, Kajian Agama
85 6
Pengasuh Majelis Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin (kiri), dan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawiyah Rembang, Kiai A. Nawawi Cholil (kanan), dalam NgAllah Suluk Maleman “Kita, Agama, Kuasa” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia Kabupaten Pati pada Sabtu, 23 Mei 2026. (dok for Harianmuria.com)

Pengasuh Majelis Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin (kiri), dan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawiyah Rembang, Kiai A. Nawawi Cholil (kanan), dalam NgAllah Suluk Maleman “Kita, Agama, Kuasa” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia Kabupaten Pati pada Sabtu, 23 Mei 2026. (dok for Harianmuria.com)

703
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

PATI, Harianmuria.com – Penyalahgunaan relasi kuasa patut menjadi bahan perenungan yang serius. Keberadaan ilmu tentu menjadi penting untuk mencegah persoalan itu terjadi di tengah carut marut saat ini.

Persoalan itu menjadi bahasan dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Kabupaten Pati pada Sabtu, 23 Mei 2026 malam.

Pengasuh Majelis Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, menyebut kasus dugaan pelecehan santriwati di Pati menjadi salah satu bentuk dari penyimpangan relasi kuasa. Di mana seorang dukun atau ada yang menganggap kiai atau tokoh, telah menyalahgunakan wewenangnya.

Sejumlah sumber menyatakan bahwa tersangka dalam dugaan pelecehan tersebut bukanlah kiai, melainkan dukun yang kemudian membuat lembaga pendidikan berbentuk pesantren. Hal itu yang kemudian membuat Anis kembali teringat pesan gurunya.

“Saya teringat pesan guru saya, Mbah Dullah Salam. Beliau pernah mengatakan bahwa banyak yang dianggap kiai tapi sebenarnya dukun. Banyak dukun yang berpakaian kiai,” ujar dia.

Istilah dukun bagi Anis sendiri telah mengalami pergeseran makna. Dalam istilah Jawa, dukun identik dengan orang yang dianggap punya keahlian tertentu, dan tidak serta merta berkonotasi klenik.

“Kalau diingat dulu itu ada dukun bayi, dukun pijat, dukun sunat. Artinya bukan soal klenik, tapi penyebut bagi orang yang dianggap pintar atau cerdas. Namun ironisnya sekarang muatan maknanya lebih bergeser ke hal klenik,” imbuh dia.

Begitu pula dengan istilah kiai yang berasal dari “ki” dan “yai”. Dalam pemahaman Jawa, “ki” merupakan istilah lelaki yang dihormati sementara “yai” menunjukkan sesuatu yang terhormat, besar dan agung.

“Kalau diingat Kiai di Jawa, penyebutannya tidak hanya untuk manusia. Tapi bisa juga untuk keris atau pusaka hingga kerbau yang dihormati,” imbuhnya.

Kalangan ulama kemudian mendefinisikan kiai sebagai orang yang punya ilmu kegamaan lengkap dan mampu mengaplikasikan pada dirinya. Sehingga ilmu itu selain untuk diajarkan juga diaplikasikan ke diri agar dapat menjadi teladan di sekitarnya.

“Karena akhlak dan adab jadi dihormati dan dituakan di lingkungan,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu Anis juga mengingatkan kembali adanya perbedaan antara mistika dan magi. Dalam tasawuf lebih dekat dengan hal yang disebut mistika, yakni perjalanan orang yang menempuh sisi rohani untuk melakukan pendekatan pada Allah.

“Saat itu, biasanya dia akan mendapatkan semacam kemampuan. Itu sebenarnya godaan bukan kelebihan bahkan bisa berbahaya,” ucap dia.

Selain kemampuan, dalam tasawuf juga disebutkan di tingkatan mendekati kebenaran atau membersihkan diri biasanya justru ada fase yang berbahaya terkait godaan syahwat. Maka di situlah harus belajar bagaimana menahan nafsu dan syahwat.

“Maka dalam toriqoh, pengawasan guru atau mursyid terhadap murid sangat ketat,” tambah dia

Hal itu sangat berbeda dengan magi, yang lebih dekat dengan pengertian sihir. Salah satu pengertian magi, menurut Anis, adalah bentuk pemanfaatan kekuatan alam atau supra natural untuk kepentingan manusia. Berbeda dengan sains, masyarakat yang cara berpikirnya masih dikuasai magi secara gaib, akan lebih mengandalkan jalan pintas, dengan memotong proses dalam menjalani hidupnya. 

“Saat masyarakat umum masih dikuasi cara berpikir magis, maka biasanya akan muncul orang yang memanfaatkannya. Mereka memanfaatkan secara psikologis kemampuan maginya untuk membuat takut, waswas dan lainnya. Menjajah pihak lain karena punya kemampuan tertentu, itu sihir namanya,” imbuh dia.

“Di situlah terjadi penyalahgunaan relasi kuasa. Tak hanya soal dukun atau oknum kiai, namun bisa terjadi dimana saja saat satu pihak punya kekuasaan lebih dibanding lainnya. Bisa bapak-anak, guru-murid, atasan-bawahan, pemimpin-rakyat. Penyalahgunaannya juga tak hanya seksual tapi bisa dalam bentuk apa saja,” sambungnya.

“Agama, politik, budaya pasti melahirkan kuasa. Masalah, apakah digunakan ke arah positif atau negatif? Mari jernihkan cara berfikir. Kalau ada oknum kiai jangan salahkan sistemnya tapi personalnya. Kita juga harus ingat, barokah juga bukan seperti yang dipahami saat ini. Barokah itu saat silaturahmi pada kiyai atau orangtua kemudian kita ditambah ilmu dan didoakan,” bebernya.

Hanya saja masyarakat saat ini seolah ingin terburu-buru. Baik untuk menjadi kaya, mencari jodoh dan lainnya kemudian datang ke dukun dengan pendekatan magi atau sihir tersebut. Hal itulah yang kemudian membuat kekacauan serta memunculkan potensi terjadinya penyalahgunaan relasi kuasa tersebut.

“Logika magi itu cirinya biar cepat mencapai hasil. Lebih mengandalkan jalan pintas, dengan memotong proses Berbeda dengan agama yang mengajarkan istiqomah,” tambah dia.

Anis juga menekankan betapa pentingnya bertanya dalam belajar agama. Bahkan dalam belajar ilmu syariat diwajibkan bertanya sampai tuntas.

“Masyarakat kita sebenarnya masyarakat yang taqdim begitu pula dalam tradisi pesantren. Hal itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah dan berbeda dengan sistem feodal. Kelemahannya terkadang kita hanya takut bertanya,” imbuh dia.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawiyah Rembang, Kiai A. Nawawi Cholil, menyebut prihatin peristiwa dugaan pelecehan santriwati di Pati berdampak pembulian pesantren secara menyeluruh. Di mana hal itu dilakukan oleh seorang oknum yang berdampak begitu luas.

“Jangan sampai memvonis seluruh pondok. Indonesia dianggap kuat justru karena pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU). Banyak negara besar yang kemudian pecah. Tapi alhamdulillah Indonesia tak mengalaminya. Salah satunya berkat adanya jaringan pondok pesantren,” ujar dia.

Dia menyebut terjadinya penyalah-gunaan kuasa adalah lantaran ilmu tidak didasarkan pada hati. Meski alim, namun jika ilmu hanya ada di otak, maka yang terjadi hanyalah nafsu.

“Maka rezeki yang paling nikmat itu adalah ilmu yang letaknya di dada. Sementara yang paling rendah itu materi di atasnya itu kesehatan. Ilmu yang hanya di otak hanya akan melahirkan hitung-hitungan saja. Saat bersedekah saya bisa dapat apa?” imbuh dia.

Kiai Nawawi juga kembali mengingatkan pesan dari Mbah Maimoen Zubair. Dalam pesannya, disebutkan ada empat kunci agar hidup dapat mulia. Di antaranya yakni punya pekerjaan, punya wiridan, punya tabungan untuk akhirat serta punya ilmu menahan diri.

“Punya ilmu ngempet baik nafsu, atau bahkan dalam mengkritik pemerintah juga harus ngempet. Boleh mengkritik tapi tetap ada tatanannya,” ujar dia.

Topik yang begitu hangat itu mampu membuat ratusan orang menyaksikan baik datang langsung ke Rumah Adab Indonesia Mulia maupun melalui berbagai kanal media sosial Suluk Maleman, mampu bertahan sampai akhir kajian. Iringan dari musik Sampak GusUran juga kian menghangatkan jalannya ngaji budaya tersebut.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: ArtikelNgaji NgAllah Suluk MalemanpatiSuluk Maleman
SummarizeShare51SendShare
Previous Post

Jelang Idul Adha, Permintaan Pemeriksaan Kebuntingan Sapi di Pasar PON Blora Naik

Next Post

Polemik Pajak UMKM, Plt Bupati Pati akan Koordinasi ke DPRD Soal Pembatalan

ulfa puspa

ulfa puspa

Berita Terkait

Monitor Penataan Trotoar Jalan Sudirman Pati, Kementerian PU Pastikan Sesuai Spek

Monitor Penataan Trotoar Jalan Sudirman Pati, Kementerian PU Pastikan Sesuai Spek

by ulfa puspa
8 Oktober 2026
531

PATI, Harianmuria.com – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Balai Penataan Bangunan, Permukiman, dan Kawasan, Dika Dwi Angga,meninjau proyek penataan trotoar Jalan Sudirman, Kabupaten...

APBD Pati 2027 Masih Dibahas, Pemkab Fokus Infrastruktur Meski TKD Turun Rp3 M

APBD Pati 2027 Masih Dibahas, Pemkab Fokus Infrastruktur Meski TKD Turun Rp3 M

by ulfa puspa
7 Oktober 2026
514

PATI, Harianmuria.com – DPRD Kabupaten Pati bersama pemerintah setempat setuju melanjutkan pembahasan Raperda APBD Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2027. Persetujuan tersebut setelah seluruh fraksi DPRD Pati menyampaikan pandangan...

Proyek Trotoar Jalan Sudirman, DPUTR Pati Sebut Tak Dilibatkan Secara Teknis

Proyek Trotoar Jalan Sudirman, DPUTR Pati Sebut Tak Dilibatkan Secara Teknis

by ulfa puspa
7 Oktober 2026
644

PATI, Harianmuria.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati mengaku tidak dilibatkan secara teknis dalam proyek renovasi trotoar Jalan Sudirman. Plt Sekretaris DPUTR Pati, Widyotomo,...

Dimintai Klarifikasi, Sejumlah Camat di Pati Absen Rapat Paripurna Karena Ada Musrenbang

Dimintai Klarifikasi, Sejumlah Camat di Pati Absen Rapat Paripurna Karena Ada Musrenbang

by ulfa puspa
7 Oktober 2026
742

PATI, Harianmuria.com – Komisi A DPRD Kabupaten Pati memanggil sejumlah camat untuk klarifikasi buntut tidak hadir dalam rapat paripurna DPRD tentang perubahan APBD pada 14 September 2026. Ketua...

Load More

BERITA UTAMA

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
517
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
526
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
530
Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

13 Oktober 2026
545

TRENDING HARI INI

  • SPPG di Kendal Wajib Ambil Telur dari Peternak Lokal dengan Harga Rp26 Ribu

    Masih Ada SPPG Tak Serap Telur Lokal, Peternak Kendal Minta BGN Tindak Tegas

    207 shares
    Share 83 Tweet 52
  • DPU Semarang Keruk 33 Sungai Hingga Benahi Drainase Jelang Musim Hujan

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

    99 shares
    Share 40 Tweet 25
  • KPK Tangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo: Diduga Suap BPK dan Pengadaan Barang Jasa

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Gubernur Jateng Tanggapi Kabar Bupati Klaten Terjaring OTT KPK

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

PENGARUH UPACARA BENDERA TERHADAP SIKAP NASIONALISME PESERTA DIDIK SDN BRATI 02

Pengaruh Upacara Bendera Terhadap Sikap Nasionalisme  Peserta Didik SDN Brati 02

7 Oktober 2022
639
Direktorat PPA-PPO Dinilai Jadi Tonggak Baru Perlindungan Perempuan dan Anak

Direktorat PPA-PPO Dinilai Jadi Tonggak Baru Perlindungan Perempuan dan Anak

23 Januari 2026
577

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya