BLORA, Harianmuria.com – Di tengah ketidakpastian PG Gendhis Multi Manis (GMM) Blora, para petani tebu setempat memilih mengirim hasil panen ke Pabrik Gula (PG) Trangkil Kabupaten Pati yang berada di unit kerja PT Kebon Agung.
Setidaknya lebih dari seribu hektare hasil panen tebu dari Blora yang dikirim ke PG Trangkil pada musim giling.
Bukan saja pada musim giling tahun 2025 dan 2026, kepercayaan petani tebu Blora mengirim hasil panen ke PG Trangkil berlangsung sejak lama dan terus meningkat. Dari petani milenial hingga petani senior.
Bagi petani tebu, PG Trangkil Pati dinilai memiliki sistem yang baik. Dari mulai dari pemberian fasilitas kemitraan berupa pinjaman dana dan subsidi bibit, pendampingan petugas lapangan hingga pembayaran yang cepat, jelas dan transparan.
Tagih Janji Serapan Panen, Petani Blora Gelar Aksi Tumpah Tebu di Pabrik Gula GMM
Slamet Riyanto, adalah petani tebu milenial dari Desa Ngampel, Kecamatan Blora. Ia menjadi petani tebu sejak 2014.
Selama 12 tahun ini, Slamet bersama istrinya, Adi Yamita, mengirim hasil panen tebu ke PG Trangkil. Setiap hari saat musim giling, mereka bisa mengirim 8-12 rit tebu ke Pati.
“Nyaman setor ke PG Trangkil. Karena sistem keuangan yang cepat dan transparan,” ujar Slamet pada Jumat, 19 Juni 2026.
Ia bersama beberapa petani tebu di wilayah sekitar, mulai dari Desa Ngampel, Plantungan, Tempuran, Sendangharjo mengelola tak kurang dari 100 Hektare area tanam tebu.
“Kami memilih bermitra dengan PG Trangkil dari dulu sampai sekarang,” tuturnya.
Berbagai kelebihan bermitra dengan PG Trangkil juga dirasakan petani lainnya, Suwanto. Warga Desa Sambongrejo Kecamatan Tunjungan itu mengirim tebu ke PG Trangkil sejak 2021.
“Area tanam saya 45 Hektare, tiap hari kirim 8 rit truk tebu ke PG Trangkil,” ujarnya.
Ia memilih bermitra dengan PG Trangkil karena mendapatkan banyak manfaat. Pihaknya bisa mendapatkan fasilitas pinjaman uang kemitraan UMK dan subsidi bibit.
Nilainya pun fantastis, dari UMK dan subsidi bibit, ia mendapatkan fasilitas lebih dari Rp100 juta. Selain itu ia merasakan pendampingan dari PG Trangkil juga bermanfaat sehingga membuat hasil panennya bisa maksimal.
“Ada banyak fasilitas dari PG Trangkil, jadi sangat baik. Bisa mendukung petani kecil makin berkembang, dan bisa menambah luas lahan,” sambungnya.
Jawab Desakan Petani Tebu, Dirut Bulog Berencana Reorganisasi PG GMM Blora
Selain Slamet Riyanto dan Suwanto, ada petani tebu lain di Blora yang juga menaruh kepercayaan di PG Trangkil. Bahkan sudah sejak 1995. Ialah Muslikhan, warga Desa Kamolan, Blora.
Muslikhan menjadi petani tebu sejak 1991. Awalnya ia mengirim hasil panen tebu ke PG lain. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa tidak nyaman lantaran ada beberapa masalah.
“Awalnya ikut PG lain. Namun dalam pelayanan tidak memuaskan. Barulah pada 1995 kirim ke PG Trangkil,” tuturnya.
Bermitra dengan PG Trangkil membuat Muslikhan terus berkembang. Areal garapan bersama sejumlah petani lainnya pun terus meningkat.
“Sekarang sekitar 450 hektare. Per hari kirim 20-25 rit ke PG Trangkil. Kalau maksimal bisa sampai 30 rit,” ucapnya.
Puluhan tahun bermitra dengan PG Trangkil tak membuat dia bosan. Lantaran pelayanan yang baik.
“Yang membuat bertahan bermitra dengan PG Trangkil pertama karena pelayanan. Bagus dan maksimal sehingga kami senang. Kedua secara keuangan baik,” jelasnya.
Di sisi lain, PG Trangkil juga mengapresiasi para petani tebu. Muslikhan adalah satu di antaranya. Ia langganan penerima penghargaan berkat keuletan, konsistensi dan komitmen.
“Dapat penghargaan piagam, Alhamdulillah. Setiap tahun nyaris dapat piagam,” tambahnya.
Kemitraan PG Trangkil dengan para petani tebu di Blora makin meningkat lantaran tutupnya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM) yang berhenti beroperasi pada akhir 2025. Para petani yang semula berkirim ke PT GMM beralih ke PG Trangkil.
Komitmen PG Trangkil untuk menyerap tebu-tebu dari petani Blora akan terus berlanjut di musim giling tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya.
Sementara itu operasional pabrik gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) telah berhenti sejak 2025. Pabrik tutup giling lebih awal pada Kamis, 25 September 2025 menyusul kerusakan pada unit boiler yang tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat.
Lantaran masalah tersebut nasib serapan petani tebu Blora pun menggantung. Pihak pabrik pada April 2026 akhirnya menempuh skema pengalihan penyerapan hasil panen tebu ke daerah lain.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia, mengatakan bahwa Bulog bersama PG GMM akan mengalihkan penyerapan tebu petani Blora ke pabrik lain.
“Solusi yang ditempuh adalah melalui skema pengalihan penyerapan tebu ke pabrik gula lain yang beroperasi dengan harga yang wajar. Terkait pelaksanaannya akan dibahas melalui FTK (Forum Temu Kemitraan),” ungkap Sri pada Rabu, 15 April 2026.
Sri menyebut kondisi teknis PT GMM saat ini belum memungkinkan untuk melaksanakan proses giling tahun 2026. Menurutnya, solusi tersebut dapat ditempuh sebagai jalan tengah.
Bulog sebagai pemegang saham mayoritas PT GMM, sambung Sri, sudah mengajukan hasil kajian perbaikan mesin untuk mendapatkan persetujuan pemerintah pusat selaku regulator.
“PT GMM juga memastikan bahwa FKT, nantinya tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga menghasilkan langkah operasional yang jelas dan dapat langsung diimplementasikan (diterapkan) di lapangan,” bebernya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











