REMBANG, Harianmuria.com – Potret pendidikan di Indonesia masih banyak kekurangan baik dari segi jumlah tenaga didik hingga kesejahteraan guru. Di Kabupaten Rembang misalnya, seorang guru taman kanak-kanak hanya menerima honor sekitar Rp6.000 per hari.
Salah satu guru yang memiliki semangat mengajar itu adalah Umi Hanik Wahyuni. Ia mengajar di Raudhatul Athfal (RA) Tarbiyatul Athfal di Desa Gilis, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Umi Hanik mengajar di RA sejak 2017. Meskipun honor yang diterima sangat minim, alumnus Madrasah Ushuluddin (MUS) Sarang masih penuh semangat menjalankan tugas mencerdaskan generasi muda.
Setiap hari, Umi mengajar puluhan siswa mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Setelah kegiatan belajar selesai, ia harus merapikan ruang kelas dan menyelesaikan administrasi sekolah.
Mengajar anak usia dini, menurutnya, bukan pekerjaan yang mudah. Guru harus memiliki kesabaran ekstra saat menghadapi anak yang menangis, bertengkar, rewel, hingga membantu mereka yang belum mampu mengurus diri sendiri. Namun, semua itu dijalaninya dengan ikhlas.
“Saya mengajar di RA untuk mengisi aktivitas pagi. Kalau sore mengajar TPQ. Bagi saya, mengajar RA adalah hiburan karena saya senang bertemu dengan anak-anak,” kata Umi Jumat, 31 Juli 2026.
Bagi Umi, mengajar bukan semata-mata mencari penghasilan, melainkan bentuk pengabdian dan cara mengamalkan ilmu agama yang diperolehnya selama mondok.
Di balik pengabdiannya, kondisi ekonomi keluarganya tergolong sederhana. Suaminya bekerja serabutan, sesekali diminta memimpin tahlil, serta memelihara delapan ekor kambing sebagai tambahan penghasilan. Mereka harus memenuhi kebutuhan tiga anak yang masih bersekolah.
“Kadang-kadang suami diminta memimpin tahlil orang meninggal,” ujarnya.
Kondisi ekonomi masyarakat Desa Gilis juga berdampak pada kemampuan sekolah memberikan honor kepada guru. Menurut Umi, RA tempatnya mengajar tidak memungut uang SPP dari siswa.
“Di RA kami tidak ada SPP. Yang ada hanya jimpitan Rp1.000 per hari,” katanya.
Kisah Umi Hanik menjadi potret masih rendahnya kesejahteraan sebagian guru pendidikan anak usia dini di Indonesia. Di balik honor yang hanya Rp6.000 per hari, ia tetap memilih bertahan karena meyakini mendidik anak-anak merupakan bentuk pengabdian yang tidak dapat diukur dengan nilai materi.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Moh. Mukson, mengatakan guru RA merupakan sosok yang memiliki dedikasi tinggi meski kesejahteraannya masih terbatas.
“Perjuangan mereka sangat berat. Namun mereka tidak pernah menampakkan kesulitan itu, justru wajah mereka selalu ceria,” ujar Mukson.
Sebagai bentuk perhatian, Kementerian Agama Kabupaten Rembang bersama Baznas Kabupaten Rembang menyalurkan bantuan insentif kepada 80 guru RA nonsertifikasi. Masing-masing menerima Rp750.000 dengan total penyaluran mencapai Rp60 juta.
Ketua Baznas Kabupaten Rembang, Moh. Ali Anshory, mengatakan guru RA termasuk golongan fii sabilillah yang berhak menerima zakat.
“Kami baru bisa membantu 80 guru RA karena kemampuan anggaran Baznas masih terbatas. Kalau penghimpunan zakat bisa mencapai Rp10 miliar hingga Rp15 miliar per tahun, tentu jangkauan bantuan akan lebih luas,” kata Ali Anshory.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











