REMBANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat terjadi penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, dr. Ali Sofii, menyampaikan data tahun 2025 menunjujukkan jumlah kematian ibu tercatat lima kasus atau sekitar 72 kematian per 100 ribu kelahiran hidup.
“Jumlah kematian ibu di tahun 2025 adalah sebesar lima kematian ibu. Ini merupakan angka terendah sepanjang sejarah Kabupaten Rembang,” ungkapnya dalam acara Penggalangan Komitmen Program Penurunan AKI dan AKB pada Rabu, 29 Juli 2026.
Sedangkan jumlah kematian bayi pada tahun yang sama mencapai 96 kasus, atau sekitar 14 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Data tersebut juga menunjukkan angka terendah sepanjang sejarah Kabupaten Rembang.
“Kematian bayi di tahun 2025 berada di angka 96 kasus atau sekitar 14 per 1.000 kelahiran hidup. Ini juga merupakan capaian yang cukup baik dan termasuk yang terendah sepanjang sejarah di Kabupaten Rembang,” jelasnya.
Meski demikian, Ali mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak cepat berpuas diri. Menurutnya, penurunan AKI dan AKB hanya dapat dipertahankan melalui sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat.
Pihaknya mengajak lintas sektor bersinergi dalam menjalankan program Temokno, Laporno, Openi (TELPONI). Melalui inovasi TELPONI, setiap unsur memiliki peran dalam mendeteksi ibu hamil berisiko tinggi, mempercepat pelaporan saat terjadi kegawatdaruratan, serta memastikan pasien mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat.
“Melalui inovasi TELPONI, seluruh pihak kita libatkan secara aktif dalam upaya penurunan AKI dan AKB. Harapannya seluruh lapisan masyarakat, fasilitas kesehatan, dan pemangku kepentingan dapat bergerak secara terpadu dan seirama dalam kegiatan ini,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Rembang Harno menekankan bahwa upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi bukan tanggung jawab tenaga kesehatan saja, keterlibatan seluruh elemen masyarakat juga dibutuhkan.
“Kesehatan ibu dan bayi merupakan indikator keberhasilan pembangunan kesehatan. Setiap ibu berhak menjalani kehamilan yang sehat. Oleh karena itu, upaya menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi harus menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya sektor kesehatan semata,” ujar Harno.
Oleh karena itu, kata dia, inovasi TELPONI mendorong masyarakat turut aktif menemukan ibu hamil berisiko tinggi, segera melaporkan apabila terjadi kondisi kegawatdaruratan, serta memastikan pasien memperoleh penanganan cepat di fasilitas kesehatan.
Harno berharap penggalangan komitmen tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan diwujudkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan.
“Komitmen yang kita bangun hari ini hendaknya tidak berhenti sebagai seremonial saja, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata, kolaborasi yang berkelanjutan, serta kepedulian yang tinggi terhadap keselamatan ibu dan bayi,” tegasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











