Harianmuria.com – Dalam kalender Islam, bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia. Salah satu peristiwa penting dari bulan kedelapan dalam penanggalan hijriah ini adalah nisfu Sya’ban yang merupakan pertengan bulan atau pada tanggal 15. Lantas, nisfu Sya’ban 2026 jatuh pada tanggal berapa?
Lembaga keagamaan, yakni Kementerian Agama, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama telah menetapkan Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Kemenag dengan mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia tahun 2026 menetapkan 1 Sya’ban 1447 H bertepatan dengan Selasa, 20 Januari 2026. Sedangkan nisfu sya’ban pada Selasa, 3 Februari 2026.
Versi Muhammadiyah mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal juga menetapkan awal dan nisfu sya’ban yang sama dengan Kemenag.
Begitu pula menurut lembaga Falakiyah PBNU menetapkan 1 Sya’ban 1447 H jatuh pada hari Selasa, 20 Januari 2026 dam nisfu sya’ban pada Selasa, 3 Februari 2026.
Berdasarkan penetapan tersebut, mengingat pergantian hari dalam kalender hijriah berlangsung sejak matahari terbenam maka malam nisfu Sya’ban dimulai sejak waktu magrib pada Senin, 2 Februari 2026.
Dalam ajaran Islam, umat muslim pada malam nisfu Sya’ban dianjurkan memperbanyak doa dan beribadah. Sebab malam Nisfu Sya’ban dianggap sebagai malam ampunan, di mana Allah SWT membuka pintu rahmat bagi hamba yang memohon ampunan.
Salah satu amalan yang dianjurkan adalah membaca doa khusus di bulan Sya’ban. Doa ini tidak hanya mengandung permohonan keberkahan, tetapi juga harapan untuk bertemu bulan Ramadan dalam keadaan yang lebih baik.
Doa Bulan Sya’ban yang Sebaiknya Dibaca
Ada beberapa bacaan doa yang baik untuk diamalkan umat muslim pada bulan Sya’ban. Berikut ini doa-doa yang umumnya dibaca.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَان
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadan.”
اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيطَانِ، وَرِضوَانٍ مِنَ الرَّحمَنِ
Artinya: “Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam, juga lindungilah kami dari gangguan setan, dan agar kami mendapat rida Allah (Ar-Rahman).” (HR. Al-Baghawi dalam Mu’jam Ash-Shahabah, sanadnya sahih)
اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ
Artinya: “Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Ahmad, 1:162 dan Tirmidzi, no. 3451, dan Ad-Darimi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).
اَللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Artinya:”Wahai Tuhanku yang Maha Pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata–sementara perkataan-Mu adalah benar–di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki.
Cara Mengamalkan Doa Bulan Sya’ban
Untuk mengamalkan doa ini, disarankan untuk membacanya setelah sholat fardhu, mengiringi dzikir harian, dan membacanya di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, setelah adzan, atau sebelum berbuka puasa. Selain itu, menyelipkan doa ini dalam puasa sunnah dan menggunakannya untuk introspeksi diri juga dianjurkan. (*)











