PARIGI MOUTONG, Harianmuria.com – Upaya siswa-siswi SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, untuk pergi ke sekolah kini tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi sungai.
Jembatan yang selama ini dinantikan akhirnya rampung. Kehadiran Jembatan Garuda di akses menuju sekolah tersebut menjadi kabar baik bagi para siswa, guru, dan masyarakat Desa Bainaa Barat.
Sebelumnya, para siswa harus berjalan menembus aliran sungai untuk berangkat maupun pulang sekolah. Kondisi itu menjadi semakin berbahaya ketika hujan deras mengguyur karena debit dan arus sungai dapat meningkat sewaktu-waktu.
Kabar rampungnya jembatan tersebut disampaikan guru SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, Muh. Najib, melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @najib_nadir pada 13 April 2026, terlihat perbandingan kondisi sebelum dan sesudah jembatan penghubung dibangun. Dokumentasi sebelumnya memperlihatkan para pelajar harus bersusah payah menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras.
Kini, kondisi tersebut berubah. Jembatan telah berdiri dan memberikan akses yang lebih aman bagi anak-anak untuk menuju sekolah.
"Sekarang jembatannya sudah selesai," tulis Najib dalam keterangan video tersebut.
Rampungnya Jembatan Garuda Bainaa Barat juga menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur yang lebih luas. Jembatan tersebut merupakan salah satu dari 3.395 jembatan di berbagai wilayah Indonesia yang dibangun TNI dan Polri dan diresmikan secara hybrid oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (13/8/2026).
Peresmian Jembatan Garuda Bainaa Barat turut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Parimo, Zulfinasran A Tiangso, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di lokasi jembatan.
Bagi para siswa dan guru, keberadaan jembatan bukan sekadar pembangunan fisik. Infrastruktur tersebut menjawab persoalan keselamatan yang selama ini mereka hadapi setiap hari.
Najib mengungkapkan, sebelum jembatan dibangun, anak didiknya kerap merasa waswas ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar, khususnya saat hujan deras. Mereka khawatir debit air sungai naik dan membuat perjalanan pulang menjadi sulit bahkan berbahaya.
Video dokumentasi yang dibagikan Najib memperlihatkan bagaimana para pelajar harus menembus aliran sungai ketika permukaan air meningkat. Situasi tersebut menunjukkan beratnya tantangan yang dihadapi anak-anak di wilayah terpencil untuk mendapatkan pendidikan.
Pembangunan jembatan dilakukan dengan melibatkan personel TNI dan masyarakat setempat. Semangat gotong royong terlihat dalam berbagai tahapan pekerjaan, mulai dari penggalian fondasi hingga pemasangan jembatan.
Najib pun menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam membuka akses pendidikan di daerah terpencil.
"Alhamdulillah jembatan untuk siswa kami sudah dibangun. Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh pembayar pajak, pemerintah pusat hingga daerah, tim dari TNI, pemerintah desa dan warga desa," tutur Najib.
Dengan selesainya Jembatan Garuda, perjalanan siswa menuju sekolah kini menjadi lebih mudah dan aman. Mereka tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi sungai setiap kali berangkat dan pulang sekolah.
Lebih jauh, kehadiran jembatan diharapkan tidak hanya memberikan dampak bagi dunia pendidikan. Pemerintah juga berharap konektivitas antarwilayah di Bainaa Barat dan sekitarnya semakin baik, sehingga membuka peluang bagi pengembangan potensi ekonomi lokal serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Bagi anak-anak Bainaa Barat, sebuah jembatan kini menjadi penghubung menuju sekolah sekaligus jalan baru untuk mengejar masa depan.
Jurnalis: Lingkarnews Network











