Harianmuria.com – Malam Satu Suro yang bertepatan dengan malam 1 Muharram dalam kalender Hijriah, kerap dijadikan momentum yang penuh nuansa spiritual dan sakral bagi masyarakat Jawa.
Tradisi perayaan malam Satu Suro merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan adat Jawa yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17 Masehi.
Sejarah Tahun Baru Jawa tidak dapat dipisahkan dari pembaruan sistem penanggalan yang dilakukan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada abad ke-17. Sebelum masa itu, masyarakat Jawa menggunakan Kalender Saka yang berakar dari tradisi Hindu-Buddha.
Pada tahun 1633 Masehi, Sultan Agung menggabungkan Kalender Saka dengan Kalender Hijriah. Langkah tersebut untuk menyatukan masyarakat Jawa dari berbagai latar belakang keyakinan, baik santri maupun abangan, dalam satu sistem waktu dan budaya yang harmonis.
Tanggal 1 Srawana tahun 1555 Saka kemudian diubah menjadi 1 Sura tahun Alip 1555 Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah.
Nama “Suro” berasal dari kata Asyura dalam bahasa Arab, yang berarti “sepuluh”. Dalam konteks Islam, Asyura merujuk pada tanggal 10 Muharram, yang memiliki keutamaan tersendiri.
Namun, dalam pelafalan masyarakat Jawa, kata ini berubah menjadi “Suro” dan digunakan sebagai nama bulan pertama dalam kalender Jawa-Islam.
Laku Ritual Peringatan 1 Suro di Mangkunegaran
Dalam pandangan masyarakat Jawa, bulan Suro merupakan waktu yang tepat introspeksi. Oleh karena itu, berbagai ritual masyarakat banyak menonjolkan suasana hening, khidmat, dan penuh pengendalian diri.
Semedi dan Tapa
Laku spiritual yang masih di jalankan di Mangkunegaran yakni semedi dan tapa. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, semedi dan tapa menjadi laku untuk refleksi diri untuk mencapai kebebasan batin, mengendalikan nafsu, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Di Pura Mangkunegaran, setiap 1 Sura melaksanakan tapa bisu mengelilingi Pura Mangkunegaran dan semedi di Dalem Ageng saat tengah malam
Selama tapa bisu, peserta kirab dilarang berbicara sebagai bentuk laku priharin, usaha mencapai keselamatan dan kesejahteraan untuk diri sendiri, keluarga, dan sesamanya.
Sementara semedi di Dalem Agung dilaksanakan dengan mematikan lampu. Peserta mengenakan busana Jawa jangkep dan dilarang berbicara maupun menyalakan alat elektronik. Semedi di Dalem Ageng melambangkan bahwa kegiatan dilaksanakan di pusat kekuasaan.
Jamasan Pusaka
Jamasan pusaka merupakan ritual membersihkan pusaka. Selain pada malam 1 Suro, jamasan juga rutin dilakukan pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat. Jamasan merupakan bentuk usaha merawat eksistensi benda pusaka warisan leluhur agar tidak cepat rusak dan awet.
Jamasan pusaka juga dimaknai sebagai upaya pembersihan diri dan penghormatan terhadap leluhur yang telah menyertai hadirnya Mangkunegaran selama ini.
Udik-Udik
Tradisi lain yang kental dengan 1 Suro Adalah udik-udik, yaitu menyebar uang. biasanya berupa uang logam dicampur bunga yang dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam suatu hajatan.
Udik-udik melambangkan berbagi sukacita dan syukur. Udik-udik juga disimbolkan berbagi sedekah dan rezeki.
Berbagi Makanan
Tradisi berbagi nasi atau makanan sudah ada sejak era Mangkunegara I, biasanya dilakukan setiap setelah Salat Jumat atau pada hari raya tertentu. Tradisi ini berkembang seiring waktu. Pada masa Mangkunegoro IX, pembagian makanan berupa nasi bungkus kepada peserta kirab pusaka.
Berbagai makanan dimaknai sebagai apresiasi kepada khalayak yang hadir pada acara hajat tersebut sekaligus berbagai rezeki.
Jenang suran
Salah satu makanan yang tak tertinggal dari tradisi 1 Suro yakni jenang suran. Masakan tradisional ini berupa bubur yang dimasak dengan santan, di atasnya ditaburi suwiran ayam, telur pindang, dan teri goreng. Selain itu dilengkapi sayur sambal goreng krecek dan kerupuk udang.
Jenang suran dibuat sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus symbol doa memohon keselamatan dan kesejahteraan kepada Sang Pencipta.











