BLORA, Harianmuria.com – Bagi masyarakat Jawa tradisi jamasan pusaka biasa dilaksanakan pada bulan Suro. Bahkan ada masyarakat yang membuka jasa penjamasan pusaka.
Ia adalah Mbah Mulyono. Lansia yang menawarkan jasa jamasan selama 24 tahun terakhir. Ia biasa mangkal di area eks Stasiun Blora saat bulan Suro.
“Sudah sejak 2002 tahun saya membuka jasa penjamasan Stasiun Blora,” ujar Mbah Mulyono pada Selasa, 23 Juni 2026.
Menurut Mbah Mulyono, dahulu terdapat dua orang yang membuka jasa serupa di lokasi tersebut. Namun, kini hanya dirinya yang masih bertahan.
Pelanggan yang datang tidak hanya warga Blora. Warga daerah sekitar, seperti Purwodadi, Rembang, Pati hingga Bojonegoro juga menggunakan jasa jamasan Mbah Mulyono.
Setiap bulan Suro, Mbah Mulyono, mengaku sedikitnya 40 orang datang menjamaskan pusaka. Untuk sekali penjamasan, ia mematok biaya sekitar Rp30 ribu. Tarif tersebut di targetkan untuk masyarakat menegah ke bawah.
“Saya memang menyasar masyarakat menengah ke bawah. Banyak petani yang punya pusaka. Sayang kalau tidak dirawat,” katanya.
Dalam proses penjamasan, Mbah Mulyono menggunakan sejumlah bahan tradisional, di antaranya air jeruk dan air warangan. Warangan merupakan material menyerupai batu yang akan larut ketika dicampur air.
Menurutnya, perubahan warna air warangan saat proses penjamasan dapat menunjukkan kondisi pamor pada pusaka. Semakin hitam warna air yang muncul, maka semakin terlihat karakter pamor pusaka tersebut.
Sebelum membuka jasa penjamasan, Mbah Mulyono mengaku menjalani tirakat terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian karena pusaka itu tajam.
“Bagaimanapun pusaka itu tajam dan bisa melukai saya,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











