SEMARANG, Harianmuria.com – Musim kemarau 2026 mulai memicu konflik antara manusia dan satwa liar di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kembali turun dari habitatnya dan memasuki lahan pertanian hingga kawasan permukiman warga.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pegunungan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan kawanan monyet selama musim kemarau.
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi, dan Konservasi Sumber Daya Alam DLHK Jateng, Puji Harini, mengatakan berkurangnya ketersediaan makanan dan air di habitat alami menjadi salah satu faktor yang mendorong monyet mendekati lahan pertanian dan permukiman.
“Mereka kerap turun jika sumber pakan berkurang. Bisa juga karena habitat aslinya sudah tidak nyaman,” ujar Puji Harini.
Fenomena monyet turun gunung saat musim kemarau terutama berpotensi terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Lawu, Slamet, Sindoro, Sumbing, hingga Muria.
Gangguan yang ditimbulkan umumnya berupa kerusakan tanaman pertanian. Selain menipisnya sumber air dan pakan alami, kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan turut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat satwa mencari sumber makanan ke luar kawasan hutan.
Di Kota Semarang, salah satu wilayah yang terdampak berada di Kecamatan Gunungpati. Warga Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, melaporkan kawanan monyet yang diduga berasal dari kawasan Gunung Ungaran atau Goa Kreo masuk ke lahan pertanian hampir setiap hari.
Jumlah kawanan tersebut disebut mencapai sekitar 150 ekor. Tanaman pisang, mangga, pepaya, jambu, sirsak, hingga singkong menjadi sasaran.
“Pisang yang belum sempat dipanen habis dimakan, bahkan sejak masih berupa jantung,” keluh warga setempat.
Gangguan serupa sebelumnya terjadi di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Kawanan monyet masuk ke area permukiman dan merusak sejumlah tanaman, seperti pisang, alpukat, nangka, rambutan, cabai, dan terong.
“Monyet-monyet itu merusak tanaman yang sudah berbuah. Yang paling banyak rusak alpukat dan nangka,” kata Ketua RT setempat.
Serangan dengan skala lebih luas juga dilaporkan terjadi di Desa Sidomukti dan Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Koloni monyet disebut merusak sekitar 10 hektare lahan pertanian yang tersebar di tujuh dusun.
Berbagai tanaman menjadi sasaran, mulai dari daun bawang, tomat, buncis, cabai, bunga mawar, hingga alpukat. Petani mengaku kesulitan menghalau kawanan monyet karena jumlahnya mencapai ratusan ekor dan satwa tersebut tidak mudah takut ketika diusir.
Ancaman monyet ekor panjang juga perlu diwaspadai di sejumlah daerah yang berada di sekitar kawasan pegunungan. Wilayah tersebut antara lain Magelang, Boyolali, Klaten, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Wonogiri, hingga daerah perbatasan seperti Sragen.
Di Sragen, kawanan monyet bahkan sempat masuk ke kompleks RSUD Tangen pada awal April 2026. Pihak rumah sakit memastikan keberadaan satwa tersebut tidak mengganggu pasien meski lokasi rumah sakit berdekatan dengan kawasan hutan.
Pola monyet turun ke area pertanian cenderung berulang ketika musim kemarau. Ketika persediaan air dan makanan di habitat alami berkurang, satwa tersebut mencari sumber alternatif di lahan warga.
Tekanan terhadap habitat juga dipengaruhi oleh tingginya populasi. Kondisi tersebut membuat kawanan monyet lebih mudah bergerak secara berkelompok untuk mencari sumber makanan baru.
DLHK Jawa Tengah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghadapi gangguan satwa liar tersebut.
Salah satu langkah yang disarankan adalah membuat embung kecil yang dapat menjadi sumber air sekaligus membantu menjaga ketersediaan pakan alami di sekitar habitat. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi dorongan satwa untuk keluar dari kawasan hutan dan mencari makanan di lahan pertanian warga.
Petani di sejumlah wilayah mengaku berbagai cara telah dilakukan untuk menghalau kawanan monyet, mulai dari membuat suara gaduh, menggunakan senapan angin, hingga memasang jaring.
Namun, cara tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif karena monyet telah terbiasa dengan upaya pengusiran dan kembali datang secara berkelompok.
Di beberapa daerah yang terdampak cukup parah, kerugian petani akibat serangan monyet disebut mencapai ratusan juta rupiah. Komoditas dengan nilai ekonomi tinggi, termasuk daun bawang dan berbagai jenis buah, menjadi salah satu tanaman yang mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau bukan hanya persoalan berkurangnya air bagi masyarakat. Bagi satwa liar yang hidup di sekitar kawasan pegunungan, menyusutnya sumber pakan dan air dapat mendorong perubahan pola pergerakan hingga mendekati wilayah manusia.
Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan hutan dan pegunungan Jawa Tengah perlu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Di sisi lain, upaya menjaga ketersediaan air dan pakan alami di habitat satwa menjadi bagian penting untuk menekan potensi konflik antara manusia dan monyet ekor panjang.
Jurnalis: Lingkarnews Network











