BLORA, Harianmuria.com – Proyek rehabilitasi Pasar Ngawen, Kabupaten Blora, yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebesar Rp30 miliar, masih tertinggal dari target pekerjaan. Menjelang berakhirnya masa adendum pada 13 Agustus 2026, progres fisik proyek masih mencapai 87,62 persen.
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora, Kiswoyo, mengatakan target kumulatif seharusnya sudah mencapai 96,89 persen. Dengan demikian, terdapat deviasi minus sekitar 9,2 persen.
“Artinya dengan keterlambatan ini sekalipun kemarin sudah dilakukan SCM (Show Cause Meeting), rapat dengan tim teknis manajemen proyek maupun pelaksana sudah dilakukan review dan peringatan bahwa proyek ini masuk dalam kategori kontrak kritis,” ujar Kiswoyo, Rabu, 12 Agustus 2026.
Selain tertinggal secara kumulatif, Kiswoyo menyebut progres harian proyek juga masih jauh dari target. Per 10 Agustus 2026, realisasi fisik harian hanya sebesar 0,482 persen, sedangkan target harian yang harus dicapai mencapai 4,6 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat proyek rehabilitasi Pasar Ngawen masuk kategori kontrak kritis. Pihaknya juga mengaku telah memberi peringatan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari satuan kerja terkait agar pelaksana segera melakukan percepatan.
Dindagkop UKM Blora, kata dia, menjadi salah satu anggota tim teknis yang dilibatkan dalam pemantauan perkembangan proyek.
“Kita juga harian kita laporkan kepada bupati, apalagi posisi kritis seperti ini,” katanya.
Lebih lanjut, Kiswoyo juga memperkirakan proyek senilai Rp30 miliar tersebut sulit selesai sesuai batas waktu adendum pada 13 Agustus 2026.
Kendati demikian, pihak pelaksana tetap diminta memaksimalkan waktu yang tersisa. Apabila pekerjaan melewati batas waktu kontrak, sanksi berupa denda keterlambatan akan diberlakukan sesuai ketentuan.
“Sesuai ketentuan tetap ada sanksi keterlambatan, denda pasti, ya tetap permil,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah juga telah melakukan review dan monitoring terhadap proyek rehabilitasi Pasar Ngawen pada Senin, 10 Agustus 2026.
Dari hasil monitoring tersebut, salah satu kesepakatan yang dihasilkan yakni pihak penyedia berkomitmen menambah tenaga kerja hingga lebih dari 200 orang untuk mengejar ketertinggalan progres.
“Ada kesepakatan-kesepakatan, di antaranya penyedia siap untuk menambah tenaga kerja sampai 200 sekian orang. Harapannya juga bisa dilakukan percepatan penyelesaian,” jelas Kiswoyo.
Semula Proyek Ditarget Selesai 13 Juli 2026
Sebelumnya, Bupati Blora Arief Rohman meninjau proyek tersebut pada 30 Juli 2026. Saat itu, progres pekerjaan dilaporkan mencapai 82,72 persen.
Arief meminta kontraktor memaksimalkan waktu yang tersisa karena proyek tersebut telah mendapatkan perpanjangan waktu melalui adendum.
Semula proyek ditargetkan selesai pada 13 Juli 2026, kemudian masa pelaksanaannya diperpanjang hingga 13 Agustus 2026.
“Jadi berdasarkan informasi dari kementerian, memang sempat ada revisi adendum perjanjian yang semula selesai 13 Juli menjadi 13 Agustus. Nah, kita berharap ini tidak molor biar tidak ada denda dan bisa tepat waktu,” ujar Arief.
Pengawas Manajemen Konstruksi PT Arss Baru KSO CV Giri Nusa Konsultan, Yanna Nuryana, sebelumnya menyebut keterlambatan proyek dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya kenaikan harga BBM dan keterlambatan material.
Menurutnya, keterlambatan produksi dan mobilisasi material membuat pekerjaan di lapangan ikut tertunda. Selain itu, kenaikan harga material dan banyaknya proyek yang menggunakan material serupa dalam waktu bersamaan, turut menyebabkan pasokan material mengalami antrean.
“Material datang terlambat, otomatis pekerjaan juga terlambat,” katanya.
Dengan adanya tambahan waktu 30 hari melalui adendum, pelaksana juga dikenai denda keterlambatan sebesar satu permil dari nilai kontrak per hari. Yakni nilai kontrak Rp30 miliar dengan denda mencapai sekitar Rp30 juta per hari.
Sebagai informasi tambahan, proyek rehabilitasi Pasar Ngawen dikerjakan oleh PT Joglo Multi Ayu menggunakan anggaran APBN Kementerian PU sebesar Rp30 miliar.
Rehabilitasi pasar dilakukan setelah Pasar Ngawen mengalami kebakaran pada 9 Januari 2024 dengan kerugian yang ditaksir mencapai Rp30,79 miliar. Pembangunan kembali pasar dimulai pada November 2025 dan semula ditargetkan rampung pada Juli 2026.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar











