REMBANG, Harianmuria.com – Puluhan warga dari Kabupaten Rembang, Kudus, Tuban, hingga Yogyakarta mengikuti ritual ruwatan menjelang malam 1 Suro di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang pada Senin, 15 Juni 2026 malam.
Ruwatan yang digelar Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan berlangsung sakral dengan diiringi alunan gamelan dan gending Jawa.
Prosesi diawali dengan pembersihan diri menggunakan air bunga yang berasal dari sejumlah sumber mata air bersejarah di wilayah Rembang. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan jamasan dan warangan pusaka sebagai bagian dari pelestarian tradisi.
Ketua Sesepuh Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan, Ernantoro, mengatakan air yang digunakan dalam ritual berasal dari beberapa sumber mata air yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
“Airnya kita ambil dari beberapa sumber mata air. Ada dari sumur Sunan Bonang, sumber Kajar, dan sumber Gowak yang dikenal sebagai tempat pemandian Dewi Indu,” kata Ernantoro.
Menurutnya, penggunaan air dari berbagai sumber tersebut dimaknai sebagai sarana pembersihan diri menjelang malam 1 Suro.
“Bahwasanya manusia memiliki kekotoran dalam pikiran maupun dalam hati. Maka pada momentum malam satu Suro ini kita membersihkan diri,” ujarnya.
Satu per satu peserta dipanggil untuk menjalani prosesi ruwatan. Dengan tubuh dibalut kain putih, mereka duduk di kursi yang telah disiapkan. Ernantoro kemudian memimpin ritual dengan menyentuh dahi peserta, mengguyurkan air bunga ke kepala, hingga memotong sehelai rambut sebagai simbol pembuangan hal-hal negatif.
Ia menjelaskan, pembersihan yang dimaksud bukan sekadar fisik, melainkan pembenahan batin dan pikiran. Karena itu, peserta yang mengikuti ritual juga dianjurkan mempersiapkan diri dengan menjalankan puasa Senin-Kamis.
“Pesertanya ada sekitar 35 orang. Ada perempuan, laki-laki juga. Mereka orang dewasa semua yang ikut ruwatan,” terangnya.
Usai ruwatan, kegiatan dilanjutkan dengan warangan atau penyucian pusaka, khususnya keris. Tradisi tersebut dipercaya sebagai cara merawat sekaligus menjaga kondisi pusaka agar tetap baik.
Selain menjalani ritual, para peserta juga mendapatkan wejangan yang berisi pesan moral dan pengingat agar senantiasa memperbaiki perilaku serta menjaga kebersihan hati.
Ernantoro menyebut tradisi tersebut telah berlangsung sejak tahun 1995 dan terus dilestarikan hingga sekarang.
“Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang. Banyak yang datang dari luar daerah juga untuk ikut ruwatan,” katanya.
Bagi para peserta, ruwatan menjadi sarana introspeksi diri sekaligus doa untuk memohon keselamatan.
Sugiono, warga Sumbergirang, Kecamatan Lasem, mengaku tahun ini merupakan kali keempat dirinya mengikuti ritual tersebut.
“Niatnya untuk membersihkan diri dari kotoran hati dan tolak bala. Harapannya dijauhkan dari kesialan selama setahun ke depan,” ujar Sugiono.
Sementara itu, Abdul Wahab, warga Desa Ketangi, Kecamatan Pamotan, menilai malam 1 Suro memiliki makna khusus bagi masyarakat Jawa sehingga menjadi momentum yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Momentum satu Suro bagi orang Jawa memiliki makna tersendiri. Karena itu dimanfaatkan untuk membersihkan hati melalui ruwatan,” katanya.
Ia berharap melalui ritual tersebut dirinya dan keluarga diberi keselamatan serta terhindar dari berbagai musibah.
“Dengan begitu diharapkan dapat terhindar dari kesialan atau hal-hal buruk. Istilah orang Jawa itu tolak balak,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











