BLORA, Harianmuria.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kelahiran di Kabupaten Blora masih di bawah standar ideal. Hal itu dinilai berdampak ke beberapa sektor, termasuk dunia pendidikan.
Kepala BPS Blora, Rukhedi, menjelaskan angka kelahiran minimal itu berada di 2,1. Artinya setiap 100 ibu melahirkan 210 anak. Sementara angka kelahiran di Blora masih angka minimal, yakni hanya 2,0.
“Di Blora dari 100 ibu hanya melahirkan 200 anak. Padahal anak yang dilahirkan itu tidak semua sampai dewasa,” ujar Rukhedi, Sabtu, 31 Januari 2026.
Menurutnya, tren penurunan angka kelahiran di satu sisi menunjukkan keberhasilan program KB (Keluarga Berencana), tetapi menurunnya populasi juga menjadi peringatan bagi keberlangsungan masyarakat.
“Ini lampu merah. Total Fertility Rate (TFR) Blora di bawah batas minimal 2,1,” katanya.
Dampak penurunan angka kelahiran dapat menyasar berbagai bidang. Misalnya dalam bidang Pendidikan, jumlah peserta didik di Blora terus berkurang.
“Padahal survei kami sudah memasukkan perempuan tua yang sudah tidak produktif untuk mempunyai anak. Nah, yang muda trennya seperti di Jepang, Korea. Lama kelamaan satu anak cukup,” tambahnya.
Menurutnya bila tren tersebut terus berlanjut, akan memicu penurunan populasi secara alami dalam jangka panjang, dan Blora akan sepi penduduk.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











