• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Rabu, Agustus 12, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

NgAllah Suluk Maleman : BANGSA YANG KEHILANGAN KUDA-KUDA

Admin by Admin
22 Juni 2026
in Artikel
63 5
Anis Sholeh Ba’asyin, Bambang Mursito dan Nur Cahyo dalam NgAllah Suluk Maleman “Bersama Kita Gila” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/6).

Anis Sholeh Ba’asyin, Bambang Mursito dan Nur Cahyo dalam NgAllah Suluk Maleman “Bersama Kita Gila” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/6).

523
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin menyoroti persoalan hilangnya cara pandang bangsa dalam melihat kemanusiaan. Padahal sejarah menunjukkan banyaknya perjuangan melawan penjajah justru didasari nilai-nilai dasar yang sudah lama menjadi menjadi bagian hidup bangsa. Nilai-nilai yang secara diametral bertentangan dengan nilai yang dibawa penjajah.

Perenungan itu muncul saat digelarnya Ngaji Budaya Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (20/6). Ironisnya, Anis menyebut era hujan narasi informasi seperti sekarang ini justru rentan mengubah perilaku bangsa.

Anis mencontohkan di abad 16, ketika koloniasme bergerak, gerakan perlawanan sangat kuat di negara-negara muslim seperti di Afrika, Asia dan sebagian Kawasan di Timur Tengah. Perlawanan itu juga muncul di nusantara seperti dari Demak, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi.

“Kenapa mereka melakukan perlawanan? Hipotesa kami karena mereka menganggap nilai pandangan hidup para penjajah berbeda dan bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka yakini,” tambah dia.

Anis menyebut dalam pandangan hidup tersebut, para pejuang melihat kolonialisme tak hanya soal keadilan dalam penyedotan ekonomi. Melainkan bagaimana berfikir akan keadilan menumbuh-kembangkan nilai-nilai dasar yang diyakini masyarakat Indonesia.

“Kolonialisme bukan hanya soal penyedotan kekayaan alam, tapi yang lebih mendasar adalah masalah peremehan nilai-nilai peradaban yang sudah hidup di kalangan rakyat,” imbuh dia.

Anis juga mengingatkan nilai pandang kemanusiaan yang hidup di kalangan para santri. Hal itu begitu terlihat dari banyaknya gerakan perlawanan terhadap penjajah yang juga muncul dari pondok pesantren.

“Kalau dilihat, ada tiga kelompok yang kemudian membentuk tentara, yakni mantan KNIL, mantan PETA, serta mantan laskar Hizbullah yang dipimpin santri dan kyai. Bahkan Hizbullah yang bergabung itu merupakan mayoritas,” terang dia.

Hanya saja, dia menyayangkan setelah kemerdekaan, perlahan-lahan cara pandang yang dipakai justru berubah. Ada banyak cara pandang yang justru menganut dan melanggengkan cara pandang kolonial.

“Seperti undang-undang dan aturan banyak yang masih mengadopsi peninggalan Belanda. Sistem pendidikan juga seperti itu. Kenapa dipilih sistem pendidikan yang bahkan infrastrukturnya pun waktu itu belum banyak kecuali sekadar peninggalan politik etis? Harus diingat SD inpres sendiri baru ada di tahun 70an,” ujar dia.

Anis justru melihat bangsa Iran saat ini dengan berani mendemontrasikan cara hidupnya. Sikap satu bangsa bisa bersatu ketika melawan paham yang berbeda.

“Bahkan oposisi ketika ada musuh dari luar justru bisa bersatu dengan baik,” ujar dia.

Budayawan yang juga akademisi, Bambang Mursito juga mempertanyakan sistem pendidikan saat ini yang terbukti tidak mempertimbangan keseimbangan otak, hati dan spiritual. Bahkan mata pelajaran agama dalam seminggu tak lebih dari tiga jam.

“Padahal tentunya Kementerian Kebudayaan pasti punya dewan pakar dan ahli. Dulu kurikulum sebelum 84 pasti ada penataran guru, buku paketnya disiapkan sekarang ganti Menteri ganti kurikulum dan terkesan amburadul,” pungkasnya.

Ratusan masyarakat tampak menikmati diskusi tersebut. Suasana kian hangat setelah diiringi kelompok musik Sampak GusUran.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Suluk Maleman
SummarizeShare38SendShare
Previous Post

Jelang Haul Sunan Pojok Blora, Warga Gotong Royong Bersihkan Komplek Makam

Next Post

Temui Massa Demo, Bupati Kendal Janji Tindak Lanjuti Aspirasi Mahasiswa dan Warga Tunggulsari

Admin

Admin

Berita Terkait

NgAllah Suluk Maleman: Kita, Agama dan Kuasa

NgAllah Suluk Maleman: Kita, Agama dan Kuasa

by ulfa puspa
25 Mei 2026
561

PATI, Harianmuria.com – Penyalahgunaan relasi kuasa patut menjadi bahan perenungan yang serius. Keberadaan ilmu tentu menjadi penting untuk mencegah persoalan itu terjadi di tengah carut marut saat ini....

NgAllah Suluk Maleman: Peradaban yang Dikendalikan Amarah dan Syahwat

NgAllah Suluk Maleman: Peradaban yang Dikendalikan Amarah dan Syahwat

by Rosyid
19 April 2026
559

PATI, Harianmuria.com - NgAllah Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Kabupaten Pati, pada Sabtu malam, 18 April 2026, kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan...

Refleksi mendalam Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman edisi 168 tentang runtuhnya empat saka guru bangsa dan tantangan peradaban Indonesia hari ini.

Suluk Maleman Edisi 168: Merekonstruksi Empat Saka Guru Bangsa

by Basuki
22 Desember 2025
614

Refleksi mendalam Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman edisi 168 tentang runtuhnya empat saka guru bangsa dan tantangan peradaban Indonesia hari ini.

Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 167 menekankan manusia bukan sumber kebenaran.

Suluk Maleman Edisi 167: Manusia Bukan Sumber Kebenaran

by Basuki
17 November 2025
562

Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 167 menekankan manusia bukan sumber kebenaran. Anis Sholeh Ba’asyin ajak warga bersihkan persepsi dan hindari kebencian di media sosial.

Load More

BERITA UTAMA

Didemo soal Larangan Sound Horeg, Camat Tayu Pati: Saya Cabut

Didemo soal Larangan Sound Horeg, Camat Tayu Pati: Saya Cabut

12 Agustus 2026
516
Ratusan monyet ekor panjang turun ke lahan pertanian warga di sejumlah daerah Jateng saat kemarau 2026, merusak tanaman petani.

Kawanan Monyet Ekor Panjang Turun Gunung, Serbu Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Jateng

12 Agustus 2026
528
Petani Kopi di Kendal Diajari Kendalikan Hama Secara Terpadu dan Ramah Lingkungan

Petani Kopi di Kendal Diajari Kendalikan Hama Secara Terpadu dan Ramah Lingkungan

11 Agustus 2026
543
Peternak Ayam di Grobogan Desak Pemerintah Stabilkan Harga Pakan dan Telur

Peternak Ayam di Grobogan Desak Pemerintah Stabilkan Harga Pakan dan Telur

10 Agustus 2026
520

TRENDING HARI INI

  • 80 Siswa Jadi Angkatan Perdana SNT 14 Jepara, MPLS Digelar di BBPMP Jateng

    80 Siswa Jadi Angkatan Perdana SNT 14 Jepara, MPLS Digelar di BBPMP Jateng

    128 shares
    Share 51 Tweet 32
  • Baru Masuk China, Ekspor Durian Sulteng Langsung Tembus 7.344 Ton

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Petani Kopi di Kendal Diajari Kendalikan Hama Secara Terpadu dan Ramah Lingkungan

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Kawanan Monyet Ekor Panjang Turun Gunung, Serbu Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Jateng

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Warga Binaan Rutan Blora Difasilitasi Pendidikan Kesetaraan Gratis hingga Dapat Ijazah

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Dugaan Keracunan MBG Terulang, DPRD Rembang Beri Peringatan Keras ke SPPG

    94 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Jalan Semarang-Purwodadi di Grobogan Diperbaiki, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

    128 shares
    Share 51 Tweet 32
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Bumdes Buat Kebun Durian

Bumdes Buat Kebun Durian

2 Februari 2022
579
Desa Bakaran Wetan, salah satu Desa Wisata yang ada di Kabupaten Pati. (Instagram @desawisatabakaranwetan/Harianmuria.com)

Liburan Sambil Belajar Budaya di 12 Desa Wisata Kabupaten Pati

14 Oktober 2022
950

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya