PATI, Harianmuria.com – Sejumlah nelayan di Kabupaten Pati yang tergabung dalam Paguyuban Nelayan Sejahtera dan Asosiasi Mina Santosa berencana menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Pati pada Senin, 4 Mei 2026. Aksi protes sekaligus penyampaian aspirasi tersebut dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mencapai Rp27 ribu per liter.
Koordinator lapangan aksi, Muhammad Agung, menyatakan kenaikan harga BBM tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya operasional melaut yang tidak sebanding dengan pendapatan nelayan.
“Kenaikan harga BBM global akibat perang membuat biaya melaut nelayan naik, sementara pendapatan turun. Tanpa kebijakan khusus, ribuan nelayan terancam berhenti melaut dan keberlanjutan usaha penangkapan ikan terancam gulung tikar,” katanya, Minggu, 26 April 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha perikanan, termasuk pemilik kapal, karena berpotensi menekan omzet hingga memicu kebangkrutan jika tidak ada intervensi pemerintah.
Dalam aksi nanti, pihaknya akan mendesak Pemerintah Kabupaten Pati bersama DPRD setempat untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), khususnya terkait kebijakan subsidi BBM bagi sektor perikanan tangkap.
Agung menilai sektor perikanan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional, terutama sebagai sumber protein dari hasil laut.
“Sub sektor perikanan tangkap merupakan bagian tak terpisahkan dari ketahanan pangan nasional dalam memenuhi kebutuhan protein yang bersumber dari ikan laut. Persoalan kenaikan harga BBM non subsidi yang sudah menembus Rp27 ribu per liter, memberatkan dan mengancam keberlanjutan usaha penangkapan ikan. Dikarenakan sekitar 70 persen biaya operasional melaut berasal dari BBM,” tandasnya.
Para nelayan juga menyampaikan tuntutan agar harga BBM non-subsidi dapat dikembalikan ke kisaran sebelumnya, yakni Rp13.600 per liter. Mereka meyakini penurunan harga tersebut akan membantu menekan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas melaut.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network
Editor: Rosyid











