PATI, Harianmuria.com – Warga Dukuh Kincir Wetan, Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati menghidupkan tradisi lamporan. Ribuan masyarakat mengikuti pawai obor sebagai bagian perayaan sedekah bumi pada Kamis, 30 April 2026 malam.
Sekitar tiga ribu lima ratus warga dari RT satu hingga RT enam turun ke jalan mengikuti pawai obor mengelilingi dukuh sepanjang dua koma lima kilometer.
Supriyanto selaku ketua panitia menjelaskan bahwa lamporan merupakan tradisi tahunan dalam rangkaian sedekah bumi yang memiliki makna khusus bagi masyarakat petani. Acara ini merupakan tahun ketiga diselenggarakan
“Ini kegiatan tahunan, setiap tahun mengadakan lamporan. Mengundang semua RT satu dukuh, dalam rangka memeriahkan sedekah bumi,” jelasnya.
Lamporan dipercaya sebagai upaya mengusir hama dan wabah penyakit sekaligus menjadi wujud syukur dan harapan akan kesejahteraan.
“Lamporan itu simbolisnya untuk mengusir hama atau pagebluk. Harapannya petani makmur, sejahtera, dijauhkan dari segala penyakit,” ucapnya.
Pawai obor menjadi puncak acara dengan warga menyusuri setiap sudut dukuh sambil membawa obor menyala. Atraksi menarik terlihat saat peserta menyemburkan minyak tanah ke arah api sehingga menciptakan bola api besar yang membumbung tinggi di udara. Cahaya obor diyakini sebagai simbol penolak bala dan pembersih lingkungan dari energi negatif.
Tradisi lamporan pun dapat sambutan antusias warga. Masyarakat tampak menunggu di pinggiran jalan menanti rombongan pawai melintas.
Warga setempat, Rima Maulida, mengaku senang dengan gelaran kegiatan sedekah bumi dan lamporan. Ia juga mendapatkan sejumlah sayuran yang didapat saat rebutan gunungan berisi hasil pertanian.
“Seru banget acaranya. Tadi dapat sejumlah sayuran juga,” akunya.
Malam puncak lamporan juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seperti wayang orang Mahabarata, kuda lumping, dan pencak silat yang menambah semarak suasana.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network











