KUDUS, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menyoroti penyaluran program makan bergizi gratis (MBG) bagi kalangan 3B yakni ibu hamil, ibu menyusui dan balita yang dinilai belum optimal.
Menurut catatan DKK Kudus, dari 51 ribu data jumlah 3B di Kudus, baru sekitar 4 ribu sasaran yang menerima manfaat program MBG.
“Saat ini penyaluran MBG untuk kalangan ibu hamil, ibu menyusui dan balita di Kabupaten Kudus baru menyasar sekitar 4 ribu penerima manfaat. Padahal jumlahnya ada sekitar 51 ribu, jadi masih kecil sekali capaiannya,” kata Sekretaris DKK Kudus, Nuryanto, Jumat, 27 Februari 2026.
Nuryanto mengatakan bahwa DKK Kudus sudah koordinasi dengan pengolala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah setempat berkaitan masih rendahnya cakupan penerima MBG dari kalangan 3B. Mengingat, program MBG di Kudus saat ini masih terfokus pada kalangan anak yang duduk di bangku sekolah.
Hasil dari koordinasi itu, kata Nuryanto, belum ada jawaban yang memuaskan karena seluruh SPPG tidak bisa memberikan penjelasan terkait hal itu.
“Kami kemarin minta SPPG untuk rapat koordinasi, kami menekankan agar 3B ini juga bisa menjadi prioritas penerima MBG,” ujarnya.
Saat ini ada 101 SPPG yang sudah terbangun di Kabupaten Kudus dan telah mengikuti pelatihan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun, baru ada 85 SPPG yang beroperasi aktif.
Nuryanto berharap, kalangan 3B dapat menjadi perhatian khusus sebagai penerima manfaat dari program MBG. Menurutnya, kalangan inilah yang sebenarnya membutuhkan pengawalan terhadap asupan gizi dalam sehari-hari.
“Saya juga tidak mendapat jawaban mengapa masih sangat kecil penerima manfaat dari kalangan ibu hamil, ibu menyusui dan balita yang mendapat manfaat dari MBG, padahal mereka juga penting, harapannya agar mereka bisa jadi prioritas,” tandasnya.
DKK Kudus, lanjut Nuryanto, juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi SPPG atau dapur penyedia MBG yang ingin berkonsultasi terkait pemenuhan gizi yang sesuai standar. Namun, sayangnya pihaknya tidak pernah dilibatkan.
Ia mewanti-wanti, jangan sampai terjadi peristiwa yang tidak diinginkan baru mereka kebingungan untuk mencari solusi, seperti saat keracunan waktu lalu. Terlebih, petugas SPPG dinilai masih muda dan belum banyak berpengalaman.
“Kalau saya lihat kan dari kepala SPPG sampai ahli gizinya kan masih muda, kami di DKK juga punya ahli gizi yang sudah berpengalaman banyak. Kami dari DKK Kudus sangat terbuka jika ada yang ingin sharing dari pihak SPPG,” tambahnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus Syarifa
Editor: Ulfa











