• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Jumat, Oktober 16, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Kemarau Picu Penurunan Hasil Pertanian di Grobogan, Hewan Ternak Kesulitan Pakan

Sekar Sari by Sekar Sari
18 Agustus 2026
in News
73 2
Petani asal Desa Asemrudung, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan pulang mencari pakan untuk hewan ternaknya. (Ahmad Abror/Harianmuria.com)

Petani asal Desa Asemrudung, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan pulang mencari pakan untuk hewan ternaknya. (Ahmad Abror/Harianmuria.com)

578
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

GROBOGAN, Harianmuria.com – Musim kemarau panjang memicu penurunan hasil pertanian di Kabupaten Grobogan. Akibatnya, sebagian petani terpaksa memilih tak lagi menanami lahannya lantaran ketidaksediaan sumber air.

Disamping itu, kondisi perekonomian petani semakin memburuk. Tidak hanya kehilangan sebagian hasil panen, sejumlah petani juga harus menjual ternak sapi yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga karena kesulitan mendapatkan pakan selama musim kemarau.

Salah seorang petani asal Desa Asemrudung, Kecamatan Geyer, Listiawaty, mengaku hasil panennya mengalami penurunan dibandingkan saat musim hujan. Jika pada musim penghujan hasil panen dapat mencapai sekitar lima kuintal, saat kemarau hasilnya hanya sekitar tiga kuintal.

“Hasil panen berkurang. Kalau biasanya saat musim labo bisa sampai lima kuintal, tapi pas musim kemarau begini paling tiga kuintal,” ujar Listiawaty, Selasa, 18 Agustus 2026.

Menurutnya, saat musim kemarau banyak lahan yang tidak lagi ditanami. Para petani lebih memilih mengolah atau mencangkul tanah sebagai persiapan menghadapi musim penghujan.

Sementara itu, sehari-hari ia juga harus mencari rumput untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Namun sulitnya mendapatkan rumput selama musim kemarau membuat keluarganya terpaksa mengurangi jumlah ternak yang dimiliki.

“Sekarang tinggal satu sapi. Kemarin ada dua, satu dijual karena musim kemarau susah pakan,” katanya.

Hal serupa dialami Sudarti (47), petani yang menggarap lahan seluas sekitar setengah hektare ini mengaku kekeringan telah berlangsung sekitar dua bulan dan berdampak langsung terhadap hasil panennya.

Jika biasanya dari lahan tersebut ia mampu mendapatkan sekitar empat kuintal hasil panen, kali ini hasil yang diperoleh hanya sekitar satu setengah kuintal.

“Biasanya dapat empat kuintal, kalau ini cuma satu setengah kuintal,” ujar Sudarti.

Kekeringan juga membuat intensitas masa tanam dan panen menurun. Dalam kondisi normal, ia dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun. Namun tahun ini, akibat keterbatasan air, lahannya hanya bisa ditanami dua kali.

Saat musim hujan atau labo, petani biasanya menanam padi. Namun ketika kemarau tiba dan ketersediaan air semakin terbatas, sebagian petani memilih menanam jagung atau bahkan membiarkan lahannya tidak ditanami.

Sudarti mengatakan lahan pertanian di wilayahnya tidak memiliki sumber air yang dapat diandalkan selama musim kemarau. Air hanya tersedia ketika musim hujan tiba, sementara memasuki musim ketigo (kemarau), kondisi lahan semakin kering.

“Sumurnya tidak ada sumbernya. Kalau ada airnya ya pas musim hujan. Kalau musim ketigo sudah tidak ada sumber air,” katanya.

Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Sekar

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Berita Grobogankemaraupertanian
SummarizeShare42SendShare
Previous Post

Warga Blora Aksi Jalan Mundur Tuntut Transparansi Proyek Pematangan Sekolah Rakyat

Next Post

Warga Rembang Tewas Usai Duel dengan Keponakan, Begini Kronologinya

Sekar Sari

Sekar Sari

Berita Terkait

Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

by Rosyid
14 Oktober 2026
557

BLORA, Harianmuria.com - Warga Dukuh Gunungrowo, Desa Sambongrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat kemarau berkepanjangan. Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga karena cuaca...

Kukuhkan Pengurus FTBM, Bupati Grobogan Dorong Gerakan Literasi hingga Pelosok Desa

Kukuhkan Pengurus FTBM, Bupati Grobogan Dorong Gerakan Literasi hingga Pelosok Desa

by ulfa puspa
13 Oktober 2026
526

GROBOGAN, Harianmuria.com – Bupati Grobogan Setyo Hadi mengukuhkan pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Literasi Kabupaten Grobogan dalam rangkaian pembukaan Festival Literasi di JIG Laksana Mall pada Selasa,...

Serikat Buruh Usul UMK Grobogan 2025 Dinaikkan 13 Persen, Jadi Segini

Naskah UU Ketenagakerjaan Belum Dipublikasikan, Buruh Grobogan Pertimbangkan Judicial Review

by Sekar Sari
12 Oktober 2026
526

GROBOGAN, Harianmuria.com - Pengesahan Undang-Undang Perlindungan Ketenagakerjaan oleh DPR RI mendapat respons positif dari buruh Kabupaten Grobogan. Namun, para buruh masih dibayangi ketidakpastian lantaran naskah undang-undang maupun naskah...

Hewan Ternak Turut Dibawa saat Shalat Istisqa di Grobogan, Ini Maknanya

Hewan Ternak Turut Dibawa saat Shalat Istisqa di Grobogan, Ini Maknanya

by Sekar Sari
11 Oktober 2026
517

GROBOGAN, Harianmuria.com – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Grobogan, selama lebih dari lima bulan membuat warga Desa Tanggungharjo kesulitan mendapatkan air bersih, Sabtu, 10 Oktober 2026.  Berharap hujan...

Load More

BERITA UTAMA

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
526
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
526
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
530
Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

13 Oktober 2026
545

TRENDING HARI INI

  • SPPG di Kendal Wajib Ambil Telur dari Peternak Lokal dengan Harga Rp26 Ribu

    Masih Ada SPPG Tak Serap Telur Lokal, Peternak Kendal Minta BGN Tindak Tegas

    208 shares
    Share 83 Tweet 52
  • Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

    100 shares
    Share 40 Tweet 25
  • DPU Semarang Keruk 33 Sungai Hingga Benahi Drainase Jelang Musim Hujan

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • KPK Tangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo: Diduga Suap BPK dan Pengadaan Barang Jasa

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Gubernur Jateng Tanggapi Kabar Bupati Klaten Terjaring OTT KPK

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Pekan Batik Nusantara 2026 di Kota Pekalongan Pertemukan Pelaku UMKM dari Berbagai Daerah

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

KHUSYUK: Warga Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus melangitkan doa kepada Sang Maha Kuasa untuk meminta hujan melalui tradisi Barikan Cendol. (Ihza Fajar/Harianmuria.com)

Melihat Tradisi Barikan Cendol di Desa Rahtawu Kudus, Ritual Leluhur untuk Meminta Hujan

26 November 2023
873
ILUSTRASI: Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober. (Unsplash/Harianmuria.com)

Mengenal Sejarah Hari Santri Nasional yang Diperingati Setiap 22 Oktober

10 Oktober 2022
666

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya