JAKARTA, Harianmuria.com – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menargetkan mencetak 500 ribu pekerja migran terampil pada periode 2026-2029.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi guna menyiapkan talenta Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
Target itu sekaligus menandai perubahan paradigma pemerintah dalam penempatan PMI. KP2MI tidak lagi ingin hanya mengejar jumlah pekerja yang diberangkatkan ke luar negeri, tetapi memastikan mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan negara dan industri tujuan.
Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI, Dr. Muh. Fachri, M.Si., menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Nasional Institut STIAMI di Candi Bentar Hall, Putri Duyung Ancol, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Fachri mengatakan pasar kerja internasional kini semakin membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi menengah hingga tinggi (medium-high skill). Karena itu, pola penyiapan pekerja migran harus mengikuti perubahan kebutuhan tersebut.
Pemerintah, kata dia, kini menggeser pendekatan dari supply-driven menjadi demand-driven. Artinya, calon pekerja tidak lagi disiapkan berdasarkan tenaga kerja yang tersedia, kemudian dicarikan pasar, tetapi justru kebutuhan pasar dipetakan lebih dahulu sebelum proses pelatihan dilakukan.
“Generasi muda kita tidak cukup hanya menjadi pencari kerja. Kita harus membangun mereka menjadi talenta global yang kompeten, adaptif, berintegritas, dan dipercaya oleh dunia,” ujar Fachri.
Menurutnya, prinsip tersebut terangkum dalam konsep train for the market. Pemerintah harus mengetahui terlebih dahulu keterampilan apa yang dibutuhkan dunia kerja internasional, kemudian menyiapkan talenta Indonesia untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“kita tidak boleh melatih orang terlebih dahulu baru mencari pasarnya, melainkan harus bertanya sejak awal apa yang dibutuhkan dunia, lalu menyiapkan talenta Indonesia untuk menjawabnya. Itulah semangat dari train for the market,” lanjutnya.
Salah satu implementasi pendekatan tersebut adalah program SMK Go Global yang telah diluncurkan KP2MI sebagai instrumen pelatihan dan sertifikasi calon pekerja migran.
Pada Batch 1, program tersebut menyaring 3.340 peserta dari 14.523 pendaftar. Mereka dipersiapkan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara tujuan, antara lain Jepang, Jerman, Korea Selatan, serta sejumlah negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah.
Namun, Fachri menegaskan bahwa menjadi talenta global tidak cukup hanya bermodalkan keterampilan teknis.
Ada lima elemen yang harus dibangun secara bersamaan, yakni kompetensi teknis, kemampuan berbahasa, literasi digital dan kecerdasan artifisial, soft skills, serta karakter.
Kompetensi teknis membuat seseorang memenuhi kualifikasi pekerjaan. Sementara karakter, menurut Fachri, menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan di lingkungan kerja internasional.
“Kompetensi teknis membuat seseorang layak dipekerjakan, namun karakterlah yang membuat tenaga kerja Indonesia dipercaya di kancah internasional,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, KP2MI mengajak perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam menyiapkan pekerja migran berkualitas.
Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga mitra pemerintah dalam menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri global, menyediakan sertifikasi kompetensi, serta melakukan riset mengenai perkembangan pasar kerja internasional.
Sinergi dengan perguruan tinggi menjadi penting karena kebutuhan tenaga kerja global terus berubah, terutama dengan meningkatnya tuntutan terhadap keterampilan digital dan kecerdasan artifisial.
KP2MI sendiri telah merancang pendekatan ekosistem pekerja migran melalui lima tahapan, yakni demand, train, place, protect, dan empower.
Tahap demand berfokus pada pemetaan kebutuhan pasar kerja. Selanjutnya, calon pekerja mendapatkan pelatihan melalui tahap train, kemudian ditempatkan sesuai kebutuhan melalui place.
Setelah bekerja di luar negeri, aspek pelindungan menjadi perhatian melalui tahap protect. Sementara empower diarahkan untuk memberdayakan pekerja migran setelah kembali ke Tanah Air.
Melalui pendekatan tersebut, KP2MI ingin mengubah posisi pekerja migran Indonesia. Mereka tidak lagi dipandang semata sebagai tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri dalam jumlah besar, tetapi sebagai talenta profesional Indonesia yang memiliki kompetensi dan daya saing global.
Target 500 ribu pekerja migran terampil hingga 2029 pun menjadi bagian dari upaya tersebut. Dengan menggandeng perguruan tinggi, pemerintah berharap proses penyiapan tenaga kerja dapat lebih dekat dengan kebutuhan industri dan negara tujuan.
Penulis: Rihmah Lailani/Jurnalis – Lokasi: Desa Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara











