KENDAL, Harianmuria.com – Masyarakat gotong royong memperbaiki tanggul kritis Sungai Bodri di Dusun Sembung, Desa Cepiring, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal. Tanggul tersebut mengalami longsor dan retak sekitar 150 meter sehingga butuh penanganan cepat karena berpotensi banjir.
Pelaksana tugas Camat Cepiring, Dwi Cahyono Suryo, menjelaskan penangangan darurat tanggul Sungai Bodri dilakukan warga secara swadaya atau iuran, baik dalam bentuk dana, tanah urug, maupun bambu. Upaya penanganan darurat ini juga mendapat dukungan dana dari program Corporate Social Responsibility (CSR) setempat.
“Kami mengapresiasi semangat masyarakat Desa Cepiring khususnya warga RW 02 Dusun Sembung yang dengan semangat luar biasa, bareng-bareng gotong royong kerja bakti untuk mengatasi tanggul yang longsor dan retak sepanjang 150 meter secara darurat,” ujarnya, Senin 26 Januari 2026.
Dwi mengungkapkan, sejak Sabtu, 24 Januari 2026 warga bersama petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bahu-membahu melakukan kerja bakti penanganan sementara tanggul. Petugas PUPR mengoperasikan alat berat, sementara warga turut membantu secara manual di lapangan.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen, mulai dari perangkat desa, anggota TNI dan Polri, hingga pihak Kecamatan Cepiring.
“Penanganan darurat dilakukan dengan cara membuat tanggul sementara menggunakan tanah yang dimasukkan ke dalam karung plastik guna mencegah longsor susulan,” ucapnya.
Selain itu, TP PKK setempat bersama relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kendal membantu di dapur umum dengan menyiapkan makanan bagi warga yang terlibat dalam kerja bakti.
“Jadi ini menjadi kolaborasi yang luar biasa bagaimana kita bahu membahu gotong royong agar tanggul itu bisa kita tangani dulu secara darurat,” tambahnya.
Dwi berharap penanganan darurat ini dapat segera diikuti dengan perbaikan permanen, mengingat keberadaan tanggul sangat vital untuk mencegah dampak banjir dan kerusakan yang lebih luas di wilayah sekitar.
Seorang warga Dusun Sembung, Edy Purnomo, mengatakan sebelumnya warga telah berkoordinasi dengan dinas terkait namun melihat kondisi tanggul yang semakin kritis dan perlu penanganan segera maka warga inisiatif melakukan penanganan darurat.
“Karena warga tidak mau menunggu apalagi kondisi di lapangan dan tanggul terus terkikis air sehingga kita khawatir kalau debit air semakin tinggi. Akhirnya kita swadaya dan menggalang donasi untuk menangani tanggul ini secara darurat,” terang Edy.
Ia menyebut, penanganan tanggul darurat dilaksanakan sejak Sabtu, 24 Januari 2026 dan ditargetkan selesai pada Senin, 26 Januari 2026 ini.
“Kita buat tanggul secara darurat siang malam. Hari ini diharapkan selesai karena alat berat harus kita kembalikan siang ini. Katanya nanti paling lama 2 minggu PSDA turun akan memperbaiki yang sisi dalam, dan kita hanya diperkenankan menangani yang sisi luar,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa











