KENDAL, Harianmuria.com – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal mengungkap harga tembakau mengalami kenaikan mencapai sekitar Rp35.000 pada musim panen 2026.
Kepala Bidang Perkebunan DPP Kendal, Gunadi, mengatakan harga jual tembakau rajangan kering relatif bagus dan mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Pada musim panen 2025, harga petik daun pertama atau samparan sekitar Rp30.000.
“Sedangkan pada musim panen 2026 ini, harga jualnya bisa mencapai Rp35 ribuan. Kami berharap pada petikan kedua, ketiga, dan seterusnya harganya bisa terus meningkat,” ungkapnya pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Gunadi menyebut kondisi kemarau panjang tahun ini menjadi faktor yang menguntungkan bagi budi daya tembakau. Tanaman ini membutuhkan intensitas sinar matahari tinggi dengan curah hujan yang relatif rendah agar menghasilkan daun berkualitas.
“Adanya kemarau panjang atau El Nino ini justru menguntungkan para petani tembakau, karena tanaman tembakau itu membutuhkan sedikit air dan sinar matahari yang lumayan banyak,” ucapnya.
Cuaca panas dan kering, kata Gunadi, dapat meningkatkan kualitas daun tembakau dan mempercepat proses pengeringan sehingga harga jual pun bisa naik.
Meskipun harga jual tembakau sedang bagus, pihaknya mengingatkan petani tidak terburu-buru memanen daun yang belum memenuhi tingkat kematangan.
“Kami berpesan kepada petani agar memanen daun ketika benar-benar sudah tua. Cirinya daun berwarna hijau kekuningan. Jangan sampai tergiur harga tinggi lalu memetik daun yang masih hijau karena akan menurunkan kualitas hasil panen,” tegasnya.
DPP Kendal terus memberikan dukungan kepada petani melalui berbagai program peningkatan produktivitas. Salah satunya menyalurkan bantuan sarana dan prasarana berupa pupuk NPK, alat/ mesin perajang tembakau, roda tiga dan para-para yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Selain itu, DPP berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengusulkan berbagai program pengembangan sektor perkebunan tembakau agar produktivitas petani terus meningkat.
“Tembakau menjadi komoditas unggulan karena mampu memberikan pendapatan yang tinggi bagi petani, menyumbang penerimaan negara melalui cukai dan devisa, sekaligus menyerap banyak tenaga kerja di sektor pertanian maupun industri,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa











