GROBOGAN, Harianmuria.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan mengungkap 18 kecamatan masuk dalam kategori rawan kebakaran pada musim kemarau 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengatakan berdasarkan pemetaan Risiko, Grobigan masuk kategori tinggi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kemarin itu ada kejadian, ada dua kejadian di Geyer dan di Jalan Gajah Mada, tapi masih kecil karena memang tidak begitu besar. Kita punya 18 kecamatan yang memang rawan untuk risiko kebakaran dan kami sampaikan bahwa Grobogan termasuk kategori tinggi untuk risiko kebakaran,” terangnya.
BPBD telah menyiagakan 27 personel yang bertugas selama 24 jam untuk mengantisipasi apabila terjadi karhutla. Perlengkapan juga dipersiapkan, seperti pompa air, selang, alat pelindung diri (APD), hingga armada tangki air.
Menurutnya, dampak kemarau tahun 2026 terus memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Hingga 5 Agustus 2026, BPBD bersama sejumlah instansi dan relawan telah mendistribusikan 167 tangki air bersih ke 46 desa yang tersebar di 14 kecamatan.
“Saat ini sudah kita mulai dropping sejak bulan Juni sampai hari ini, 5 Agustus. Kita sudah dropping air sebanyak 167 tangki ke sekitar 46 desa di 14 kecamatan,” pungkas Wahyu.
Di sisi lain, Kapolres Grobogan AKBP Endi Pratama mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kebakaran. Ia menyebut pemicu kebakaran tidak hanya karena cuaca, tetapi juga kelalaian manusia.
“Penyebabnya mungkin karena faktor panas, mungkin juga karena ada masyarakat yang tidak sengaja membuang puntung rokok dan lain sebagainya. Sebaiknya melihat situasi saat ini sedang musim kemarau, jadi mudah sekali lahan-lahan yang kering ini terbakar,” ujar Endi usai mengecek kesiapan armada penanganan bencana, Rabu, 5 Agustus 2026.
Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama tahun 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September. Sekitar 54 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus, sementara sebagian wilayah lainnya akan mengalaminya pada September.
Namun, mulai September hingga November 2026 sejumlah wilayah memiliki probabilitas lebih kering cukup tinggi, antara lain sebagian besar Kalimantan dan Papua dengan peluang mencapai 80-90 persen, beberapa wilayah di Pulau Jawa pada Oktober, serta sejumlah daerah lain pada November.
Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG sekaligus Direktur Perubahan Iklim Fachri Radjab mengungkapkan hingga 2 Agustus 2026 BMKG mencatat sekitar 5.690 titik panas tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
“Ini juga perlu kita antisipasi mengingat bulan Agustus dan September kita sudah masuk ke puncak musim kemarau. Artinya potensi hotspot juga akan semakin meningkat,” ujar Fachri.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa










