TANGERANG, Harianmuria.com – Industri florikultura nasional berpotensi besar untuk menjadi motor penggerak baru ekonomi hijau sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekspor Indonesia.
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengatakan, industri florikultura memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan industri kreatif, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan perdagangan tanaman hias di pasar global.
"Sektor florikultura harus dipandang secara luas sebagai pilar penting dalam pengembangan ekonomi hijau, inovasi, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan industri kreatif di tanah air," katanya, dalam agenda pembukaan Floriculture Indonesia International (FLOII) tahun 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten pada Kamis (17/9/2026).
Menurut Karding, pagelaran Floriculture Indonesia International (FLOII) 2026 menjadi jendela untuk membuka masa depan industri florikultura Indonesia sekaligus mengenalkan kekayaan biodiversitas nusantara ke kancah global guna menggenjot nilai ekspor.
Ia mengatakan melalui tema "United by Nature", FLOII memiliki makna filosofis yang mendalam karena tanaman mampu menyatukan berbagai elemen mulai dari breeder dengan nursery, pengusaha hingga konsumen, serta pemerintah dengan komunitas untuk bersama-sama membawa Indonesia menuju pasar internasional.
Peluang tersebut tercermin dari nilai perdagangan tanaman hias Indonesia. Berdasarkan data aplikasi sistem pengukuran ekspor-impor BestTrust milik Barantin, total nilai perdagangan ekspor-impor tanaman hias pada periode 2025–2026 mencapai Rp4,42 triliun.
Khusus pada tahun berjalan, dari Januari 2026 hingga minggu kedua September, nilai perdagangan tanaman hias telah membukukan Rp3,51 triliun.
Selain pasar ekspor, Karding menilai potensi pasar domestik tanaman hias juga sangat besar. Perdagangan tanaman hias di dalam negeri diperkirakan berkisar antara Rp20 triliun hingga Rp40 triliun.
Menurut Karding, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal sehingga masih terbuka ruang untuk menjadikan florikultura sebagai penggerak ekonomi kerakyatan yang produktif dan bernilai tambah tinggi.
Dengan peluang bisnis yang besar, dirinya mengajak masyarakat, khususnya para pencinta tanaman hias, untuk melihat hobi tersebut sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan yang produktif dan bernilai tambah tinggi.
"Ini masih dikelola secara alami, belum di-manage, belum di-treatment secara sungguh-sungguh, potensi ekonominya seperti ini. Kita bayangkan berapa rakyat kita bisa berdaya karena hobi tanaman hias," katanya.
Editor: Asih











