JAKARTA, Harianmuria.com – Badan Karantina Indonesia (Barantin) dan Kementerian Industri Primer Selandia Baru (Ministry for Primary Industries/MPI) memperkuat kolaborasi di bidang biosekuriti dan karantina sekaligus mendorong perluasan akses pasar bagi komoditas unggulan Indonesia ke Selandia Baru.
Langkah strategis tersebut mengemuka dalam pertemuan Kepala Barantin Abdul Kadir Karding dengan Kepala Kementerian Industri Primer Selandia Baru Ray Smith, Kepala Biosekuriti MPI Stuart Anderson, dan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Di sisi perdagangan, Karding mendorong agar penguatan hubungan teknis kedua negara turut membuka akses pasar yang lebih luas bagi komoditas unggulan Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan sektor hewan, ikan, dan tumbuhan tahun 2024, ekspor Indonesia ke Selandia Baru tercatat USD872 juta, sementara impor mencapai USD1,22 miliar. Kondisi tersebut menyebabkan defisit perdagangan Indonesia sebesar USD351 juta.
Sejumlah komoditas Indonesia yang dinilai berpotensi dikembangkan pasarnya di Selandia Baru antara lain sarang burung walet, bulu unggas, ikan hias laut dan air tawar, udang vanamei, kepiting bakau, serta tuna, tongkol, dan cakalang.
Peluang juga terbuka untuk komoditas hortikultura dan kehutanan, seperti rempah-rempah, mangga, manggis, salak, pisang, kayu, dan produk kayu.
Selanjutnya dibahas pula tiga fokus utama kolaborasi yang diusulkan Barantin, meliputi:
- Penyelarasan standar SPS & protokol kesehatan untuk lalu lintas hewan, ikan, dan tumbuhan.
- Pelatihan teknis karantina terkait deteksi dini serta manajemen lab penyakit strategis (PMK, LSD, dan Brucellosis).
- Penerapan E-Certificate & tindakan pre-border demi memperkuat pengawasan sebelum komoditas masuk Indonesia.
Ditegaskannya bahwa penguatan biosekuriti dan akses pasar merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.
Sistem karantina yang kuat memberikan jaminan kesehatan dan keamanan komoditas sekaligus mendukung kelancaran perdagangan.
“Barantin siap mengawal penuh implementasi kolaborasi dengan Kementerian Industri Primer Selandia Baru untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di kedua negara,” tegasnya.
Menurutnya Selandia Baru merupakan mitra strategis bagi Indonesia dalam penguatan sistem biosekuriti.
Pengalaman Selandia Baru dalam membangun sistem biosekuriti dapat menjadi referensi bagi Indonesia.
“Kami melihat Selandia Baru sebagai mitra strategis. Pengalaman dan praktik biosekuriti Selandia Baru dapat menjadi benchmark bagi Indonesia dalam memperkuat sistem karantina,” ujar Karding.
Ray Smith menyambut positif penguatan hubungan kedua negara di bidang biosekuriti.
Ia menilai kerja sama pertukaran pengetahuan dan pengalaman dapat mendukung perdagangan yang aman sekaligus memastikan komoditas memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan.
“Penguatan biosekuriti merupakan fondasi penting bagi perdagangan yang aman dan berkelanjutan. Selandia Baru menyambut baik peluang untuk terus membangun hubungan dengan Badan Karantina Indonesia melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman,” ujar Ray Smith.
Editor: Asih











