SORONG, Harianmuria.com — Komoditas ikan kerapu hidup asal perairan Raja Ampat, Papua Barat Daya, kian mengukuhkan posisinya di kancah internasional setelah banjir peminat dari pasar Hong Kong.
Tercatat hingga triwulan III 2026, volume pengiriman melonjak tajam dengan nilai ekonomi mencapai miliaran rupiah.
Berdasarkan data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Barantin) Papua Barat Daya, ekspor kerapu hidup ke Hong Kong menunjukkan tren peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2024.
Pada 2024, pengiriman baru tercatat satu kali dengan volume 4.478 ekor senilai Rp1,28 miliar. Sementara itu, hingga triwulan III 2026, frekuensi pengiriman telah melonjak menjadi lima kali dengan volume 15.121 ekor bernilai lebih dari Rp2,38 miliar.
Daya tarik kerapu Raja Ampat sendiri tidak lepas dari karakteristik geografis perairannya. Kepala Karantina Papua Barat Daya, I Wayan Kertanegara, menjelaskan bahwa kondisi alam setempat menciptakan kualitas daging yang istimewa.
“Arus laut yang kuat dan bersih serta ekosistem terumbu karang yang produktif membuat kerapu Raja Ampat punya tekstur daging yang padat dan cita rasa gurih yang khas, itu yang membuat pasar Hong Kong menyukainya,” kata Wayan.
Guna menjaga standar ekspor tersebut, pihak karantina menerapkan prosedur pemeriksaan ketat sebelum pengiriman, mulai dari verifikasi dokumen, uji klinis, hingga laboratorium guna memastikan komoditas bebas dari penyakit berbahaya.
Potensi besar komoditas unggulan daerah ini mengemuka dalam Webseries Go Ekspor Barantin episode ke-11 bertajuk “Kupas Tuntas: Kerapu Hidup Raja Ampat Menembus Pasar Dunia” yang digelar secara hibrida dari Sorong, Rabu (23/9/2026).
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (PPSDM Karantina), Wisnu Wasisa Putra, mengatakan bahwa terbukanya pasar ekspor ini membuktikan kekayaan laut Papua mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang luas bagi masyarakat pesisir dan nelayan lokal.
“Kami ingin memastikan setiap petugas karantina memiliki kompetensi yang mumpuni, dan setiap pelaku usaha kerapu di Raja Ampat mendapat pendampingan yang memadai, karena pada akhirnya keberhasilan ekspor ini harus dirasakan langsung oleh nelayan dan masyarakat pesisir Papua,” ujar Wisnu.
Badan Karantina Indonesia pun berkomitmen mengawal penuh tata kelola mutu produk agar komoditas UMKM dan daerah mampu bersaing di panggung global.
“Barantin berkomitmen menjadi mitra strategis pelaku usaha. Kalau tata kelola karantina dan mutu produknya baik, komoditas UMKM dari daerah mana pun di Indonesia bisa bersaing di pasar global,” tegas dia.
Editor: Asih











