BLORA, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora mencatat 14 kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga Maret 2026 dengan satu pasien meninggal dunia.
Kepala Dinkes Blora, Edy Widayat, mengatakan kondisi cuaca yang masih sering hujan membuat potensi penyebaran DBD tetap tinggi. Pasalnya genangan air di lingkungan rumah menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti.
“DBD masih harus diwaspadai. Apalagi saat musim hujan karena banyak tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk,” ujar Edy, Selasa, 31 Maret 2026.
Edy menyebut kasus DBD di Blora pada 2025 tercatat ada 133 pasien dengan empat kematian. Oleh karena itu, kasus DBD di awal 2026 harus menjadi alarm untuk tetap waspada.
Menurut Edy, pencegahan DBD paling efektif dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penampungan air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Selain itu, masyarakat juga diminta rutin memantau keberadaan jentik nyamuk di sekitar rumah.
“Kalau lingkungan bersih dan tidak ada tempat air tergenang, jentik nyamuk tidak akan berkembang. Ini yang paling penting dilakukan masyarakat,” jelasnya.
Dinkes Blora terus melakukan berbagai langkah pencegahan, di antaranya melalui pemantauan jentik berkala, penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, hingga fogging fokus di wilayah yang ditemukan kasus.
Namun, ia menegaskan fogging hanya menjadi langkah penanganan sementara. Upaya utama tetap bergantung pada kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa. Kalau jentiknya masih ada, maka nyamuk akan muncul lagi. Karena itu PSN harus rutin dilakukan,” tegasnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, mual, hingga muncul bintik merah pada kulit.
“Kalau demam lebih dari dua hari, jangan ditunda. Segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit supaya bisa ditangani lebih cepat,” tandasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











