KUDUS, Harianmuria.com – Banyak tempat bersejarah di Kabupaten Kudus untuk ditelusuri, salah satunya di permukiman masyarakat Tionghoa. Masyarakat dapat mengikuti walking tour untuk mengetahui jejak perdagangan, industri, hingga tokoh Tionghoa yang berperan besar dalam perkembangan peradaban di Kota Kretek.
Permukiman masyarakat Tionghoa itu biasa disebut pecinan. Kawasan tersebut berada di Kudus timur.
Pemandu walking tour, Rohmat Hidayatullah atau yang akrab disapa Dayat, mengatakan kegiatan kali ini merupakan peluncuran rute baru yang mengangkat narasi sejarah Pecinan Wetan. Selama perjalanan, peserta diajak mengunjungi berbagai titik bersejarah yang menjadi saksi perkembangan ekonomi masyarakat Tionghoa di Kudus.
“Pagi ini kita walking tour untuk rute baru, tentang Pecinan Wetan. Kita mengenalkan permukiman Tionghoa di Kudus Timur, termasuk tokoh-tokoh Tionghoa yang aktif dalam perniagaan. Ada sejarah perusahaan besar seperti Djarum dan Nojorono, juga bagaimana perdagangan orang-orang Tionghoa dulu berkembang di Kudus,” ujar Dayat, Minggu, 28 Juni 2026.
Rute Pecinan Wetan dimulai dari Tugu Identitas Kudus, kemudian menuju kawasan Nojorono di Perempatan Bitingan yang menyimpan kisah NV Moeria dan NV Trio. Perjalanan dilanjutkan ke Jenang Muntjul, Brak Djarum Bitingan Lama, hingga PR Sidodadi yang berkaitan dengan tokoh Djohar Manik.
Di sela perjalanan, peserta diajak menikmati jajanan khas seperti bolang-baling dan cakue sebelum melanjutkan kunjungan ke Griya Rahardja, Ruko Hans, dan RS Miriam yang memiliki keterkaitan dengan organisasi CHTH (Cung Hua Cung Hwi).
Perjalanan berlanjut ke Teater Djarum, bekas Melkerij Ong In Biauw yang kini menjadi Polytron, pabrik Kecap Njah Biek, Djarum Pusat, dan berakhir di Klenteng Hok Hien Bio.
Dayat menjelaskan, kegiatan walking tour rutin digelar setiap dua pekan sekali dengan total 12 rute reguler yang telah disusun. Selain itu, penyelenggara juga menghadirkan special tour yang mengangkat tema-tema tertentu.
“Walking tour ini kami adakan dua pekan sekali. Total ada 12 rute reguler, tapi ada juga special tour yang menyesuaikan tema. Jadi peserta bisa mendapatkan pengalaman sejarah yang berbeda-beda,” katanya.
Menurutnya, konsep berjalan kaki sambil mendengarkan cerita sejarah dipilih agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih mudah mengenal sejarah Kota Kudus dengan cara yang lebih menarik, rekreatif, sekaligus edukatif.
“Kita ingin mengenalkan sejarah dan narasi kota dengan cara berbeda. Tidak seperti di ruang kuliah, tapi lebih rekreatif dan edukatif. Kudus punya potensi cerita sejarah yang luar biasa, mulai dari keislaman, wali, pabrik rokok, jalur kereta, sampai kawasan pecinan,” jelasnya.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut juga terus meningkat. Jika biasanya setiap pelaksanaan diikuti sekitar 25 peserta, pada walking tour Pecinan Wetan kali ini jumlah peserta mencapai 31 orang.
Dayat menilai tingginya partisipasi tersebut menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah daerahnya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kami melihat semakin banyak anak muda yang tertarik mengikuti walking tour. Ini menjadi tanda bahwa sejarah lokal bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa










