KUDUS, Harianmuria.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus memulai Sensus Ekonomi 2026 guna memperoleh data valid kondisi perekonomian masyarakat pada level keluarga maupun pelaku usaha dari skala kecil hingga besar.
Kepala BPS Kudus, Eko Suharto, menegaskan pelaksanaan sensus tetap memprioritaskan kerahasiaan data responden.
“Kerahasiaan data merupakan amanat undang-undang. Kami tidak akan membocorkan data kepada pihak lain, sebagaimana diatur dalam UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik dan UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi,” ujarnya, Selasa, 5 Mei 2026.
Eko juga memastikan bahwa seluruh petugas sensus telah dibekali pemahaman untuk menjaga integritas dan keamanan data masyarakat.
BPS Kudus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pendataan. Pengumpulan data menggunakan Computer Assisted Web Interviewing (CAWI) untuk pengisian mandiri oleh responden, Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) melalui petugas menggunakan gawai, serta Paper and Pencil Interviewing (PAPI) sebagai alternatif jika diperlukan.
“Penggunaan kertas kami tekan seminimal mungkin. Namun jika kondisi di lapangan membutuhkan, metode manual tetap kami siapkan,” ucapnya.
Sebanyak 622 petugas sensus diterjunkan dengan masa kerja sekitar 2,6 bulan. Setiap petugas dibebani pendataan sekitar 500 hingga 600 keluarga. Jika digabung dengan unit usaha, total cakupan bisa mencapai hampir 1.000 objek pendataan per petugas.
Data yang dihimpun pada sensus ekonomi mencakup berbagai aspek, yakni identitas usaha seperti nama dan nomor induk berusaha (NIB), status usaha, jenis produk, hingga jumlah tenaga kerja.
Selain itu, BPS juga mendata keterlibatan usaha dalam program tertentu seperti sertifikasi halal, izin BPOM, partisipasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga keterlibatan dalam koperasi desa (kopdes).
Tak hanya itu, BPS mengumpulkan data keuangan usaha, meliputi nilai pengeluaran perusahaan sepanjang 2025, nilai aset tahun sebelumnya, serta pendapatan usaha selama 2025.
Sementara pada tingkat keluarga, sensus ini mencatat kondisi ekonomi secara menyeluruh, termasuk kepemilikan aset serta keterangan anggota keluarga dalam satu rumah tangga.
Kepala BPS Kudus juga menyampaikan sensus ekonomi ini penting untuk melihat lebih dalam kondisi sebenarnya di masyarakat. Ia mencontohlan kini banyak pedagang pasar mulai beralih dari yang konvensional menuju pasar digital, seperti Shoope, TikTok shop, Tokopedia, dan lain-lain dimana perputaran ekonomi sangat cepat terjadi.
“Secara tampilan mungkin dia tidak terlihat bekerja, karena memiliki usaha secara online,” jelasnya.
Melalui Sensus Ekonomi 2026 ini, BPS Kudus berharap dapat menghadirkan potret utuh kondisi ekonomi masyarakat yang nantinya menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











