SRAGEN, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Sragen memperkenalkan tradisi baru berupa Bancakan Ageng Kemukus 2026 dalam memperingati tahun baru Islam 1447 Hijriah dan 1 Suro.
Agenda yang diselenggarakan di kawasan wisata Gunung Kemukus dirangkai dengan kegiatan Kemukus Never Sleep dengan mengusung tema “Tradisi Baru, Harapan Baru” pada Selasa, 16 Juni 2026.
Adapun rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi Larap Slambu atau pencucian selambu makam Pangeran Samudro. Prosesi dimulai dengan pelepasan kelambu oleh juru kunci, kemudian diarak menuju Palataran Pasucen Tirto Kencono untuk disucikan.
Tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya yang dihormati masyarakat. Namun, pelaksanaannya kini dimaknai sebagai simbol penyucian diri dan refleksi spiritual.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, mengatakan bahwa Pemkab Sragen mulai tahun ini memperkenalkan tradisi Bancakan Ageng Kemukus sebagai sarana mengenalkan kembali nilai-nilai budaya luhur warisan leluhur.
“Bancakan adalah bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini juga mengajarkan gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Bupati Sigit menyorot penggunaan encek sebagai alas atau piring makanan yang terbuat dari anyaman bambu.
“Kalau orang-orang dulu pasti mengenal bancakan dan encek. Namun generasi sekarang banyak yang belum mengetahuinya. Karena itu, tradisi ini kami hadirkan kembali agar budaya Jawa tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Sigit juga meresmikan Galeri Kemukus sebagai pusat informasi sejarah dan budaya Gunung Kemukus.
Galeri tersebut akan menjadi ruang edukasi yang memuat berbagai narasi, foto, lukisan, dan benda bersejarah terkait Gunung Kemukus, Pangeran Samudro, dan Nyai Ontrowulan.
Keberadaan galeri ini, menurut Bupati menjadi bagian dari upaya meluruskan sejarah dan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat maupun wisatawan, sehingga dapat menghindari berbagai mitos yang selama ini berkembang.
“Galeri ini akan terus diisi dengan berbagai informasi positif tentang Gunung Kemukus. Harapannya, masyarakat dan pengunjung memperoleh pemahaman yang benar mengenai sejarah kawasan ini,” jelasnya.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sragen, I Yusep Wahyudi, menjelaskan bahwa tema Suran tahun ini sengaja mengusung semangat pembaruan melalui slogan Kemukus Never Sleep.
“Kami ingin membangun cara pandang baru terhadap Gunung Kemukus. Baik petugas, juru kunci, masyarakat, maupun para pendatang diharapkan memiliki mindset yang lebih positif tentang Gunung Kemukus,” jelas Yusep.
Menurut Yusep, mengubah citra yang selama ini melekat di Gunung Kemukus bukanlah hal mudah. Karena itu diperlukan berbagai langkah nyata, salah satunya melalui penciptaan tradisi baru yang tetap berakar pada nilai budaya lokal.
“Hari ini kita membuat acara yang namanya Bancaan Ageng Kemukus. Bancaan adalah wujud rasa syukur atas semua nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Tradisi ini juga menghidupkan kembali istilah-istilah budaya Jawa yang mulai jarang digunakan,” katanya.
Ia menambahkan, tradisi Larap Slambu juga diberi pemaknaan baru sebagai simbol membersihkan diri.
“Bukan mensakralkan sesuatu, tetapi sebagai pengingat bahwa kita perlu menyucikan diri. Dengan bersuci, kita lebih mudah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” imbuhnya.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network











