SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat adanya peningkatan kasus leptospirosis di wilayah setempat dalam dua tahun terakhir.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengungkapkan pada 2024 pihaknya menemukan 32 kasus leptospirosis, sementara pada 2025 melonjak menjadi 59 kasus.
Hakam menyebutkan bahwa penyakit ini terjadi disebabkan dari bakteri yang ada pada hewan dan dapat menginfeksi manusia.
“Leptospirosis ini disebabkan oleh bakteri Leptospira, bukan virus. Ketika masuk ke tubuh manusia, bakteri ini sangat mudah berkembang dan berisiko tinggi menyerang organ vital,” ujarnya, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia mengatakan tingkat kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi dengan 23 warga meninggal dalam tiga tahun terakhir.
Hakam merinci pada 2023 tercatat 10 kasus meninggal dunia, dan di 2024 sebanyak 5 kematian, kemudian pada 2025 ada 8 orang meninggal dari total 59 kasus.
Menurutnya, sebagian besar kasus ditemukan di wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi serta kondisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang belum optimal.
“Bisa karena kepedulian masyarakat terhadap lingkungan ini masih rendah,” tuturnya.
Sebagai langkah pencegahan, pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Selain itu, sejak akhir 2025, Pemkot Semarang menggencarkan gerakan Operasi Tangkap Tikus (OTT) untuk menekan penularan leptospirosis.
“Semakin banyak tikus yang kita tangkap, maka peluang bakteri menular ke manusia akan semakin kecil. Ini seperti pemberantasan DBD dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Kalau lepto, kuncinya OTT,” jelasnya.
Hakam menargetkan wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi dapat menangkap sekitar 50 ekor tikus setiap pekan, bahkan hingga 100 ekor di daerah tertentu.
Tikus yang tertangkap juga harus dimusnahkan sesuai ketentuan agar efektif menurunkan risiko penularan.
Ia menambahkan, gerakan OTT sejatinya sudah lama dilakukan, namun kini ditargetkan lebih masif hingga ke tingkat kelurahan, RW, dan RT.
“Mulai dari pengadaan perangkap hingga cara penanganan tikus yang tertangkap, nanti akan kami dampingi dan ajari. Harapannya, dengan OTT rutin, angka penularan leptospirosis bisa ditekan,” jelasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid











