REMBANG, Harianmuria.com – Bagi pecinta wisata alam, penikmat senja, maupun pencari tempat tenang untuk melepas penat, Wisata Watu Layar yang terletak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, menjadi destinasi yang wajib dikunjungi.
Berada di atas perbukitan seberang Pantai Bonang dan di sisi jalur pantura Tuban–Rembang, lokasi ini hanya berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Rembang.
Dengan panorama laut yang dipenuhi perahu nelayan serta pemandangan matahari terbenam yang menawan, Watu Layar menjadi alternatif wisata keluarga yang menyatukan keindahan alam sekaligus edukasi hutan lindung.
Wisata Legendaris yang Kembali Bangkit
Pengelola Watu Layar, Agus Rusdiyanto, menjelaskan bahwa kawasan ini merupakan lahan Perhutani dengan status hutan hidup terbatas. Pada awalnya, tempat ini ditetapkan sebagai wisata rintisan namun sempat tidak berjalan saat dikelola secara swakelola.
Kini, pengelolaan dilakukan kembali oleh Perhutani KPH Kebonharjo bersama Pemerintah Desa Bonang.
“Dulu banyak pengunjung, sudah kami perluas sekitar 2,1 hektare. Setelah swakelola tidak jalan, akhirnya dikelola lagi oleh Perhutani bersama desa,” ujarnya.
Agus menuturkan bahwa Watu Layar adalah wisata legendaris yang sudah dikenal sejak lama.
“Semua kalangan masuk, apalagi yang tua-tua. Pasti punya kenangan di sini,” tambahnya.
Fasilitas Lengkap, Termasuk Camping Ground
Watu Layar menyediakan fasilitas cukup lengkap, mulai dari area parkir, musala, kamar mandi, air bersih, hingga camping ground yang mampu menampung hingga 100 tenda.
Bagi pengunjung yang ingin berkemah, pihak pengelola juga menyediakan fasilitas khusus dengan aturan tetap menjaga vegetasi hutan.
“Posisi api unggun tidak boleh sembarangan. Kami tentukan satu titik agar tidak merusak vegetasi. Boleh senang-senang, tapi jangan merusak alam,” jelas Agus.
Pihak pengelola memanfaatkan kondisi alami hutan secara kreatif. Pohon besar yang tumbang dibiarkan secara alami dan kemudian ditata ulang menjadi spot foto atau tempat duduk.
Di kawasan ini juga terdapat tanaman unik seperti Akasia neuretika dari Mesir yang tumbuh baik di pinggir pantai. Ke depan, tiap tanaman akan diberi kode batang sebagai sarana edukasi bagi pengunjung.
Rencana pengembangan Watu Layar meliputi pembangunan playground anak, penataan area camping, dan penambahan kebun buah untuk wisata petik buah.
Sunset, Magnet Utama Watu Layar
Tak dapat dimungkiri, sunset menjadi magnet utama Watu Layar. Dari puncak bukit, pengunjung dapat melihat matahari tenggelam di balik cakrawala dengan latar siluet perahu nelayan yang berjejer rapi.
“Yang jelas di sini itu pesona sunset. Banyak pengunjung datang sore. Kalau pagi agak sepi,” tutur Agus.
Warga sekitar juga ikut mendukung wisata dengan menyediakan kuliner khas seperti masakan merico dan ikan bakar. Pengunjung tinggal memesan, dan makanan akan dikirim ke atas bukit tanpa harus turun.
Nama “Watu Layar” sendiri berasal dari bentuk bukit yang jika dilihat dari laut menyerupai layar kapal.
“Nelayan kalau lihat bukit ini dari laut, seolah-olah seperti layar,” ungkap Agus.

Testimoni Wisatawan
Pratama (19), wisatawan asal Bancar, Jawa Timur, mengaku datang karena tertarik setelah melihat unggahan TikTok. “Yang membuat menarik adalah sunsetnya,” tuturnya
Sementara Rifa (19) dari Pancur memuji peningkatan pengelolaan Watu Layar. “Dulu sempat terbengkalai, tapi sekarang mulai dihidupkan lagi. Cocok buat yang suka nyunset.”
Tiket Terjangkau, Suasana Menenangkan
Dengan tiket masuk hanya Rp3.000 per orang, wisatawan sudah dapat menikmati panorama alam sekaligus belajar tentang keanekaragaman hayati hutan lindung.
Ketenangan suasana, udara sejuk, dan panorama laut menjadikan Watu Layar tempat ideal untuk melepas penat. “Suasana di sini nyaman, udaranya sejuk, bawaannya pengen tidur,” tutur Agus.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang menyambut baik dan mendukung pengembangan Watu Layar agar destinasi wisata Rembang semakin marak dan edukatif.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki











