SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus berupaya menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di Pasar Johar yang hingga kini masih terlihat lengang.
Melalui Dinas Perdagangan (Disdag), Pemkot Pekalongan mulai membuka peluang bagi pedagang barang bekas atau yang dikenal sebagai Pasar Maling untuk menempati lapak di dalam area pasar.
Kebijakan ini menjadi salah satu strategi untuk mengisi kios kosong sekaligus menarik kembali keramaian yang pernah menjadi ciri khas Pasar Johar.
Kepala Disdag Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, menegaskan bahwa optimalisasi Pasar Johar menjadi faktor penting untuk mendapatkan dukungan pembangunan dari pemerintah pusat.
“Johar ini harus hidup dulu. Kalau masih sepi, pusat belum akan bantu pembangunan pasar lain seperti Penggaron dan Bangetayu,” ujar pria yang akrab disapa Amoy, Selasa, 7 April 2026.
Ia menilai keberadaan pedagang barang bekas justru berpotensi menjadi daya tarik baru. Menurutnya, secara historis kawasan Johar memang pernah dikenal sebagai pusat aktivitas jual beli barang bekas yang ramai.
Sebagai langkah konkret, pihaknya menyiapkan area di lantai 2 hingga 4 Pasar Johar Tengah yang saat ini masih didominasi lapak kosong. Lokasi tersebut dinilai representatif untuk menampung pedagang yang selama ini berjualan di pinggir jalan.
Kebijakan ini juga diarahkan untuk menertibkan pedagang yang memanfaatkan fasilitas umum seperti trotoar, termasuk di kawasan Kokrosono, agar beralih ke dalam pasar.
Amoy menyebut minat pedagang terhadap kebijakan ini terbilang tinggi. Dari kuota awal 100 lapak yang disediakan, jumlah pendaftar disebut telah mencapai sekitar 600 pedagang.
“Ini menunjukkan minatnya besar. Tinggal kita tata supaya bisa masuk semua secara bertahap dan tertib,” jelasnya.
Selain penataan pedagang, pihaknya juga tengah menyiapkan program “Jolari” atau Johar Malam Hari. Program ini akan difokuskan di area pelataran pasar dengan konsep aktivitas malam guna menarik lebih banyak pengunjung.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid











