REMBANG, Harianmuria.com – Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun lalu menjadi masa emas bagi para petani garam di wilayah Rembang. Dengan cuaca panas, produktivitas garam mengalami peningkatan.
Sukardi, petani garam asal Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, mengatakan hasil panen garam pada musim kemarau tahun ini cukup melimpah. Dalam satu petak lahan, ia bisa menghasilkan sekitar 12 hingga 15 sak garam.
“Musim kemarau saat ini satu petak bisa dapat 12 sampai 15 sak,” kata Sukardi.
Namun di tengah meningkatnya produksi itu, ia mengeluhkan harga garam yang justru anjlok sangat jauh. Saat ini harga garam berada di kisaran Rp550 per kilogram dari sebelumnya yang mencapai Rp1.250 per kilogram.
“Produksi memang banyak, tetapi harganya turun. Kondisi ini membuat petani kecewa karena hasil yang melimpah tidak sebanding dengan pendapatan,” ujarnya,
Meski begitu, ia memastikan kualitas dan ukuran butiran garam tahun dinilai lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini karena cuaca panas membuat proses kristalisasi berjalan lebih maksimal.
Petani pun berharap pemerintah turun tangan untuk menjaga harga garam di tingkat petani. Salah satunya melalui penetapan standar atau harga acuan agar petani tidak sepenuhnya bergantung kepada tengkulak maupun makelar.
“Petani berharap pemerintah turun tangan menetapkan standar harga garam. Dengan begitu mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak atau makelar,” pungkas Sukardi.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Tia











