KUDUS, Harianmuria.com – Museum Kretek Kudus pada tahun 2022 ini memiliki target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebedar Rp 700 juta. Dari target yang telah ditentukan itu, telah terealisasi sampai 70 persen.
Hal ini diungkap Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Yusron usai kegiatan Museum Kretek Keliling di Balai Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Selasa (1/11).
“Target PAD Museum Kretek itu sebesar Rp 700 juta, sejauh ini sudah terealisasi sekitar 70 persen,” katanya.
Sehingga nominal capaian realisasi PAD untuk Museum Kretek untuk tahun ini sudah mencapai sekitar Rp 500 juta. Jumlah ini didapatkan berdasarkan banyaknya kunjungan wisatawan ke Museum Kretek.
Yusron menjelaskan, target PAD hanya dibebankan untuk Museum Kretek saja. Sedangkan untuk Museum Patiayam tidak memiliki target PAD karena tidak ada tiket masuk berbayar atau masih gratis.
“Target PAD hanya ada untuk Museum Kretek saja, karena kalau di Museum Patiayam itu free,” ucapnya.
Sebab untuk masuk ke Museum Kretek di hari Senin sampai dengan Sabtu pengunjung diharuskan membayar tiket sebesar Rp 4 ribu. Sementara untuk tiket masuk di hari Minggu atau tanggal merah yakni Rp 5 ribu.
“Itu tiket masuk ke kawasan komplek museum. Kalau ingin menikmati kolam renang masih bayar lagi sebanyak Rp 15 ribu dan kalau mau menikmati wahana Ember Tumpah itu bayar lagi Rp 7 ribu,” sebutnya.
Yusron menjelaskan, saat ini jumlah kunjungan di hari kerja rata-rata mencapai 50 orang per hari. Sementara untuk kunjungan di akhir pekan sekitar 100 orang per hari.
“Karena saat ini sudah ada kelonggaran untuk kunjungan ke tempat wisata, jadi jumlah pengunjung bisa mengalami peningkatan,” katanya.
Sementara kunjungan ke museum ini didominasi oleh pelajar. Hal ini lantaraan akhir-akhir ini sekolah-sekolah di Kudus sudah mulai mengadakan kegiatan outing class atau belajar di luar kelas.
“Sekolah-sekolah sekarang sudah mulai lagi kegiatan outing class ke museum. Sebelumnya kan sempat terhenti karena pandemi,” jelasnya.
Untuk kegiatan outingclass ke museum ini, biasanya sekolah menghubungi pihak museum terlebih dahulu untuk berkoordinasi. Namun, ada juga sekolah yang datang langsung ke museum Kretek.
“Kami sifatnya fleksibel, kalau mau datang langsung tidak apa-apa, kalau mau menghubungi kami dulu juga boleh. Biasanya sekolah yang menghubungi dulu itu kalau mereka butuh ruangan untuk kegiatan outingclassnya,” jelasnya.
Sedangkan total koleksi di Museum Kretek saat ini ada sebanyak 859 barang. Sebanyak 36 koleksi diantaranya merupakan koleksi baru yang diinventarisasi pada tahun 2022 ini.
“Proses penempatan barang koleksi di Museum Kretek memang panjang. Ada proses inventarisasi, konservasi, kajian koleksi hingga seminar dahulu. Lalu kita tentukan penyimpanannya itu nanti, bisa di display atau di storage,” paparnya.
Pihaknya pun berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Museum Kretek. Salah satunya dengan mengadakan kegiatan Museum Kretek Keliling ke desa-desa wisata.
“Masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang koleksi yang ada di Museum Kretek. Kami meminta bantuan Pokdarwis untuk mempromosikan Museum Kretek kepada wisatawan,” ungkapnya.
Bupati Kudus HM Hartopo pun mendorong agar museum Kretek terus menggali historis produksi rokok. Apabila terdapat alat produksi rokok yang sudah tidak diproduksi, Hartopo meminta dinas berkoordinasi membuatkan replica agar koleksi di museum Kretek makin beragam.
“Digali terus perkembangan produksi rokok. Biar koleksi makin beragam, dan pengunjung juga semakin banyak yang tertarik untuk datang ke Museum Kretek,” jelasnya. (Lingkar Network | Nisa Hafizhotus Syarifa – Harianmuria.com)











