BLORA, Harianmuria.com – PT Blora Patra Energi (BPE), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Kabupaten Blora, tetap optimistis mencatatkan peningkatan pendapatan pada tahun 2025. Keyakinan ini muncul meskipun operasional sumur tua di Lapangan Ledok–Semanggi terhenti selama tiga bulan terakhir akibat kendala perizinan.
Komisaris PT BPE, Seno Margo Utomo, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas. Salah satunya adalah dengan mengajukan izin aktivasi Lapangan Giyanti, yang saat ini prosesnya sudah sampai di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Kami sedang mengupayakan aktivasi Lapangan Giyanti. Pengajuan sudah sampai ke Kementerian ESDM, semoga segera ada titik terang,” kata Seno, Rabu, 28 Mei 2025.
Baca juga: Pemanfaatan Sumur Minyak Tua Rakyat di Blora Dapat Restu Menteri ESDM
Baca juga: Perpanjangan Izin Sumur Tua Ledok dan Semanggi Masih Tahap Finalisasi di Kementerian ESDM
Selain itu, BPE juga berencana menambah jumlah izin pengelolaan sumur tua yang ada dan terus menjajaki peluang dari wacana legalisasi sumur rakyat.
Kabupaten Blora memiliki sekitar 770 sumur tua yang masih menyimpan potensi produksi minyak. Seno menilai, apabila dikelola dengan baik dan legal, sumur-sumur ini bisa menjadi sumber pemasukan besar bagi daerah.
“Potensi pendapatan dari legalisasi sumur rakyat cukup besar, tapi kami masih menunggu regulasi dari Kementerian ESDM,” imbuhnya.
Meski menghadapi tantangan operasional di Lapangan Ledok-Semanggi, BPE mencatat tren kinerja positif sepanjang tahun 2024. Produksi minyak meningkat sebesar 507 ribu liter, atau naik 4,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ini terutama ditopang oleh bertambahnya jumlah sumur aktif di Lapangan Semanggi.
Baca juga: Izin Tambang Sumur Minyak Tua di Blora Diputus, Kerugian Capai Miliaran Rupiah
Secara keuangan, pendapatan kotor BPE naik sebesar Rp4,1 miliar, atau meningkat 7 persen year-on-year (YoY). Namun, kenaikan beban pajak akibat revisi fiskal nasional berdampak pada laba bersih.
“Laba bersih kami naik dari Rp1,45 miliar menjadi Rp1,48 miliar, atau hanya naik tipis sekitar 2 persen,” jelas Seno.
Meski menghadapi tantangan perizinan dan fiskal, PT BPE Blora tetap menunjukkan langkah strategis dalam memaksimalkan potensi lokal. Harapan besar tertumpu pada aktivasi sumur baru dan kejelasan legalisasi sumur rakyat, yang bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi daerah.
(EKO WICAKSONO – Harianmuria.com)











