JEPARA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat industri kecil menengah (IKM) di sektor busana muslim, khususnya produksi gamis. Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong kolaborasi antara pelaku IKM, pabrik, serta organisasi kemasyarakatan keagamaan.
Hal ini disampaikan Bupati Jepara, Witiarso Utomo, saat menerima audiensi Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kalinyamatan Griya Busana di ruang kerjanya, Kamis, 5 Maret 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Jepara yang akrab disapa Mas Wiwit itu menegaskan pemerintah daerah siap menjadi penghubung antara pelaku IKM dengan berbagai pihak yang berpotensi membuka peluang pasar lebih luas bagi produk lokal.
Menurutnya, sinergi dengan pabrik-pabrik yang ada di Jepara perlu diperkuat agar produk dari pelaku IKM dapat terserap dalam rantai produksi yang lebih besar. Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong kerja sama dengan organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
“Pelaku IKM khususnya produksi gamis kita arahkan untuk bisa bekerja sama dengan pabrik-pabrik di Jepara. Kita juga mengajak ormas seperti NU dan Muhammadiyah agar masyarakat ikut mendukung IKM lokal,” katanya.
Mas Wiwit menambahkan, pihaknya juga tengah merancang agenda pameran yang akan digelar pada momentum megengan menjelang Ramadan tahun depan. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ajang promosi sekaligus transaksi bagi para pelaku IKM.
Melalui pameran tersebut, Pemkab Jepara menargetkan daerahnya dapat berkembang menjadi pusat grosir gamis nasional. Dengan konsep tersebut, pedagang dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan datang langsung ke Jepara untuk membeli produk dari pelaku IKM setempat.
“Kita ingin Jepara tidak hanya dikenal sebagai kota ukir, tetapi juga memiliki identitas baru sebagai pusat grosir baju gamis,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris KUB Kalinyamatan Griya Busana, Bagus, menyampaikan bahwa audiensi tersebut bertujuan mendukung program pemerintah daerah dalam mendorong pelaku UMKM agar dapat berkembang dan memperluas pasar.
Ia berharap pemerintah dapat menjadi jembatan yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dalam skala lebih besar, termasuk dari organisasi masyarakat.
“Kami berharap jika ada kebutuhan seragam dari NU atau organisasi lain, bisa diproduksi oleh IKM Jepara, bukan dari luar daerah,” ujarnya.
Bagus juga mengungkapkan salah satu kendala yang dihadapi pelaku IKM saat ini adalah keterbatasan tenaga penjahit. Banyak pekerja yang lebih memilih bekerja di pabrik karena menawarkan penghasilan yang lebih stabil.
Meski demikian, ia tetap optimistis peluang pengembangan usaha masih terbuka luas, terutama jika jaringan pemasaran dapat diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Selama ini kami lebih banyak menjual secara online. Dengan adanya kerja sama dengan ormas, kami berharap jaringan pemasaran bisa lebih luas hingga tingkat nasional,” pungkasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Rosyid











