GROBOGAN, Harianmuria.com – Penebangan sekitar 648 pohon untuk proyek penataan drainase di kawasan perkotaan Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, menuai sorotan dari masyarakat.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan, Erry Subagyo, menyebut penebangan ratusan pohon tersebut dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari penyesuaian pembangunan drainase yang kondisinya dinilai sudah tidak memadai.
“Yang ramai kan saat ini pemotongan pohon itu ya. Jadi saya jelaskan, drainase saat ini setelah dilakukan perencanaan oleh konsultan, telah disurvei dan diinvestigasi kondisinya. Saat ini sudah tidak memadai dari kondisi dimensi ukuran, baik lebar maupun dalamnya kurang,” ujar Erry baru-baru ini.
Menurutnya, akar pohon yang tumbuh di sepanjang jalur tersebut juga telah merusak bagian luar trotoar.
“Akar menyerang bagian luar trotoar sehingga paving pecah, miring, sehingga tidak layak untuk pengguna jalan dan berbahaya,” jelasnya.
Selain merusak trotoar, akar pohon juga disebut telah masuk ke saluran drainase lama. Kondisi tersebut membuat sebagian saluran tertutup akar sehingga turut mengganggu fungsi drainase.
Erry menjelaskan, pembangunan drainase baru membutuhkan dimensi yang lebih lebar dan dalam. Kondisi pohon yang berada tepat di sekitar saluran membuat pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan tanpa penebangan.
“Kalau pohon dipotong itu akan menyebabkan tumbang dan membahayakan. Solusinya, drainase dilebarkan dan diganti dengan beton yang tidak dapat ditembus air,” katanya.
Ia menegaskan, pohon yang ditebang nantinya tidak sekadar diganti dengan bibit. Pemerintah berencana menggantinya dengan pohon yang sudah berukuran besar sehingga kawasan tersebut tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali rindang.
“Jadi dari pohon yang sudah ada diganti dengan pohon baru, bukan bibit. Pohon jadi, nanti diameternya 15, 20, bahkan sampai 25,” ungkapnya.
Ada dua jenis pohon yang disiapkan untuk menggantikan pohon yang ditebang, yakni pule dan tabebuya. Erry menyebut pohon pule seperti yang berada di kawasan Simpang Lima Purwodadi, sementara tabebuya akan ditanam seperti yang berada di sekitar SMP Negeri 6.
“Kalau tabebuya seperti di SMP 6, saat kembang mekar suasananya adem. Kalau pule, menurut pengalaman kalau sudah satu tahun sudah rimbun,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, PUPR menargetkan kawasan yang terdampak penebangan dapat kembali hijau dalam waktu sekitar satu tahun.
“Untuk masyarakat kita janjikan dalam satu tahun sudah kembali rimbun,” tegasnya.
Erry menambahkan, total pohon yang ditebang dalam proyek tersebut mencapai 648 pohon. Namun, jumlah pohon yang nantinya ditanam kembali dipastikan lebih banyak dibandingkan jumlah pohon yang ditebang.
“Adapun pohon yang ditebang sebanyak 648, namun nantinya pohon yang ditanam akan lebih banyak dari itu,” katanya.
Ia berharap masyarakat memahami alasan teknis di balik penebangan tersebut. Menurutnya, pembangunan drainase dengan ukuran yang lebih besar akan sulit dilakukan apabila pohon-pohon lama tetap berada di lokasi karena berpotensi membahayakan ketika akar dan bagian tanah di sekitarnya terdampak pekerjaan.
“Jadi seperti itu harapannya masyarakat agar paham kenapa pohon ditebang. Alasannya itu, sulit untuk membangun drainase kalau pohonnya masih seperti itu karena drainasenya harus lebar, dalam. Otomatis pohon dipotong separo pasti ambruk dan berbahaya,” pungkas Erry.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid











