GROBOGAN, Harianmuria.com – Delapan siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah membacakan puisi perlawanan di hadapan para pejabat Kabupaten Grobogan.
Pembacaan puisi itu dilakukan di tengah seremoni penanaman pohon di Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan pada Rabu, 4 Februari 2026.
Salah satu puisi yang dibaca adalah karya Widji Thukul “Bunga dan Tembok” yang sarat kritik terhadap pembangunan dan kekuasaan.
“Bunga dan Tembok” dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap tirani dan pembangunan yang menyingkirkan rakyat kecil.
Ketua BEM Universitas An Nuur Purwodadi, Muhammad Hilal, menegaskan lomba baca puisi ini bukan sekadar hiburan seremonial, melainkan bagian dari edukasi kritis sejak dini.
“Ini upaya menanamkan kecintaan dan kepedulian lingkungan kepada anak-anak sejak sedini mungkin. Lingkungan bukan hanya soal pohon, tapi juga soal keadilan ruang hidup,” ujarnya.
Meski masih belia, para peserta tampil dengan penghayatan yang kuat dan penuh percaya diri. Setiap bait puisi dibacakan dengan intonasi tegas membawakan pesan perlawanan yang terkandung di dalamnya.
Panitia menetapkan dua juara untuk kategori puisi wajib dan dua juara untuk kategori puisi ciptaan sendiri. Jumlah peserta dibatasi hanya delapan anak karena keterbatasan waktu.
“Di Desa Cingkrong ada empat SD dan MI. Masing-masing kami minta mengirim dua peserta,” tambah Hilal.
Berikut ini puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul sebagaimana dikutip dari buku Puisi untuk Reformasi: Grafiti di Tembok Istana (2014) oleh Kurnia Jr
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di Bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di mana pun tirani harus tumbang!
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











