BLORA, Harianmuria.com – Kenaikan harga bahan baku, seperti minyak goreng, tepung pati hingga plastik berdampak signifikan terhadap pelaku usaha kerupuk di Kabupaten Blora.
Pengrajin kerupuk terpaksa mengurangi margin keuntungan hingga menurunkan kapasitas produksi, demi tetap menjalankan usaha.
Pemilik usaha kerupuk di Kedungjenar, Kecamatan/Kabupaten Blora, Novi, mengatakan tidak menaikan harga jual kerupuk yang ia produksi meskipun terjadi lonjakan harga berbagai bahan baku pembuatan kerupuk.
“Kami tidak berani menaikkan harga. Jadi yang berkurang itu margin atau laba kami. Biasanya disiasati ukuran kerupuknya sedikit dikecilkan,” ujarnya, Senin, 20 April 2026.
Di sisi lain, Novi juga mengalami penurunan omzet yang diperkirakan mencapai 50 persen dibandingkan kondisi normal.
Kenaikan harga minyak goreng menjadi faktor utama yang memberatkan proses produksi kerupuk, pasalnya kenaikan minyak goreng mencapai Rp4 ribu.
Menurutnya, harga minyak goreng subsidi pemerintah sebelumnya hanya berkisar Rp16 ribu per liter, kini mencapai sekitar Rp20 ribu.
“Sekarang sudah Rp20.600, dan tidak ada subsidi seperti dulu,” keluhnya.
Selain minyak goreng, harga tepung pati sebagai bahan utama krupuk, juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pasalnya, dalam perhitungan pembelian bahan baku tersebut, mampu menyentuh Rp3 juta hingga Rp4 juta dalam satu kali pembelian tepung pati.
“Kalau ambil 4 ton, selisihnya bisa sampai Rp3 juta sampai Rp 4 juta sekali datang,” jelasnya.
Selain bahan baku, kenaikan harga plastik dirasakan turut membebani margin produksi kerupuk. Kendati begitu, Novi bertahan dengan harga semula. Apabila harga jual dinaikkan, ia khawatir akan berdampak pada pedagang mitra hingga konsumen yang selama ini konsisten membeli produknya.
“Kalau harga dinaikkan, kasihan bakulnya juga. Mereka juga terdampak karena harga plastik mahal,” jelasnya.
Ia menilai kondisi pasar yang lesu turut memengaruhi produksi. Jika sebelumnya ia mampu memproduksi kerupuk hampir setiap hari, kini dalam sepekan hanya berjalan tiga hingga empat kali produksi.
“Dulu bisa produksi penuh dari Senin sampai Sabtu. Sekarang paling hanya tiga sampai empat kali seminggu. Turunnya hampir separuh,” terangnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa










