TARAKAN, Harianmuria.com — Badan Karantina Indonesia (Barantin) terus memacu peningkatan ekspor komoditas unggulan asal Kalimantan Utara (Kaltara).
Langkah ini dilakukan melalui penguatan sinergi bersama para pelaku usaha lokal guna mempercepat arus perdagangan internasional.
Upaya memacu ekspor tersebut mengemuka dalam kegiatan NGOBRAS KALTARA (Ngobrol Bersama Karantina dan Pelaku Usaha) yang dihadiri Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, di Tarakan, Minggu (30/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Karding menegaskan Karantina tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga berperan sebagai economic tools dan akselerator perdagangan untuk membantu komoditas Indonesia memenuhi persyaratan pasar internasional.
“Barantin tidak hanya bertindak sebagai pemeriksa, tetapi juga hadir sebagai fasilitator perdagangan. Kami mendampingi dan memberikan asistensi kepada pelaku usaha agar mampu memenuhi persyaratan negara tujuan, sekaligus mempercepat arus perdagangan yang aman,” ujar Karding.
Untuk mendongkrak daya saing komoditas Kaltara di pasar global, Barantin mendorong para pelaku usaha memperkuat hilirisasi dan pemenuhan standar sanitari serta fitosanitari.
Dengan pengolahan yang lebih baik, komoditas unggulan tidak hanya dikirim dalam bentuk bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
“Potensi yang dimiliki Kalimantan Utara sangat besar. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana memastikan produk-produk unggulan ini memenuhi standar pasar sekaligus memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” kata Karding.
Potensi besar komoditas Kaltara tercermin dari data BEST-TRUST periode 1 Januari hingga 28 Agustus 2026.
Sertifikasi ekspor komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan di wilayah ini telah dilakukan sebanyak 3.704 kali dengan total nilai mencapai Rp2,238 triliun.
Capaian tersebut disumbang oleh ekspor komoditas tumbuhan sebesar Rp1,264 triliun, komoditas ikan Rp974,998 miliar, dan komoditas hewan Rp263,15 juta.
Kayu olahan menjadi komoditas tumbuhan dengan nilai tertinggi sebesar Rp842,315 miliar, sedangkan udang windu memimpin sektor perikanan dengan nilai Rp522,128 miliar.
Melalui forum NGOBRAS KALTARA, Barantin berharap komunikasi dan kolaborasi dengan pelaku usaha semakin kuat.
Sinergi ini diharapkan mampu mengatasi berbagai kendala teknis, proses sertifikasi, hingga perluasan akses pasar guna meningkatkan kontribusi Kaltara terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Editor: Asih











