Harianmuria.com – Memasuki bulan kedua dalam penanggalan tahun Hijriyah, dalam tradisi Jawa terdapat satu hari penting untuk melantunkan doa-doa. Sejak dulu dikenallah istilah Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan, yakni peringatan hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Ada yang menyebut tradisi Rebo Wekasanada sejak masa dakwah Walisongo. Banyak yang meyakini bahwa pada hari itu Allah SWT tengah menurunkan lebih dari 500 bala atau kesialan maupun kemalangan di muka bumi.
Namun ada juga yang menyebut bahwa tradisi Rabo Wekasan bersumber dari keterangan kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf li Naf’il ‘Abid wa Qam’I Kulli Jabbar ‘Anid atau Mujarrobat ad-Dairobi yang dianjurkan oleh Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi. Tidak hanya itu, sumber lain yang mengatakan tentang Rabo Wekasan, yaitu Syekh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar dalam kitabnya Al-Jawahir Al-Khams.
Lewat kitab-kitab itulah disebutkan melalui keterangan dari seorang Waliyullah dan telah menduduki maqam kasyaf, mengatakan bahwa pada hari Rabu terakhir di bulan Safar Allah menurunkan 320.000 macam bala’ dalam satu malam.
Menurut keterangan dari Almarhum KH Maimoen Zubair, pada hari Rabo Wekasan dianjurkan untuk melakukan beberapa amalan. Diantaranya shalat 4 rakaat, membaca surat al-Kautsar 17 kali, membaca surat al-Ikhlas 5 kali, kemudian membaca surat al-Falaq dan an-Nas.
Selain itu beradasarkan keterangan Almarhum KH Maimoen Zubair tadi, صِفْر menurut orang Arab bermakna pucat yang berarti kosong. Seolah-olah bulan yang kosong itu Safar, sehingga seakan-akan Allah menciptakan bumi itu pada bulan Safar. Dengan demikian, pada saat mengingat kejadian penciptaan bumi, maka dikembalikan kepada Allah supaya selamat dari bahaya dan bala’. Tujuannya, agar setiap manusia yang hidup tidak hanya memikirkan hal duniawi saja sampai mengalami kesusahan.
Karena keyakinan adanya bala’ itulah sebagian masyarakat Jawa percaya tidak memilih atau malah menghindari hari tersebut untuk melangsungkan pernikahan atau hajatan. Banyak juga yang menyakini hari Rebo Wekasan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Tidak hanya itu, ada mitos menyebut bahwa bayi yang lahir pada hari itu harus diruwat agar terhindar dari kesialan atau malapetaka seumur hidupnya.
Meskipun demikian, keberadaan keyakinan Rebo Wekasan ini mendapatkan beragam pandangan miring. Namun yang jelas, baik pendapat membolehkan dengan tidak dilakukannya amalan-amalan pada hari Rebo Wekasan sama-sama memiliki landasan dan argumennya masing-masing.
Adapun menurut perhitungan kalender Masehi, hari Rabu Wekasan tahun 2022 jatuh pada tanggal 21 September 2022. Mengenai peringatan itu, mendekati hari Rebo Wekasan beberapa daerah di Jawa melakukan beberapa tradisi bahkan Festival.
Seperti yang dilakukan oleh warga desa Jepang, kecamatan Mejobo, kabupaten Kudus, yang menggelar tradisi Air Salamun Rewo Wekasan. Tradisi yang dikemas menjadi festival itu telah ada sejak 1900-an dan telah dijadikan tradisi budaya desa pada 2009 silam. (Harianmuria.com)











