GROBOGAN, Harianmuria.com – Tradisi Rabu Wekasan di Desa Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan diwarnai gelak tawa dan suasana penuh keakraban. Warga saling menyuapi sekaligus mengusapkan bubur atau jenang Jawa ke wajah pasangan maupun orang-orang yang mereka cintai sebagai bentuk tolak bala dan doa agar terhindar dari marabahaya maupun penyakit.
Rabu Wekasan sendiri diperingati setiap hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam penanggalan Hijriah. Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memperingati hari tersebut.
Sementara rangkaian tradisi Rebo Wekasan di Grobogan diawali dengan mengarak ratusan gelas bubur jenang Jawa sejauh sekitar 100 meter. Arak-arakan dimulai dari masjid desa menuju rumah kepala dusun setempat.
Setelah tiba, warga kemudian mengikuti doa bersama. Bubur yang telah didoakan selanjutnya dilaburkan ke wajah pasangan atau orang terdekat sebelum disantap bersama.
Jenang yang digunakan merupakan kudapan tradisional berbahan tepung beras dan gula Jawa.
Uniknya, tradisi mengusapkan bubur tersebut memiliki sejarah yang lebih panjang. Dahulu, ritual mengusap bubur dilakukan pada pohon-pohon di kebun. Warga berharap tanaman yang mereka rawat dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah yang melimpah.
Namun seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut mengalami perubahan. Ritual yang sebelumnya dilakukan pada tanaman kemudian dilakukan kepada pasangan atau orang terdekat sebagai simbol perlindungan dan harapan agar keluarga terhindar dari marabahaya.
Kepala Desa Tanggungharjo, Suyono, mengatakan tradisi tersebut terus dijaga karena menjadi bagian dari warisan leluhur masyarakat setempat.
“Ini merupakan bagian untuk menjaga warisan leluhur masyarakat setempat,” ungkapnya.
Antusiasme warga terlihat sejak pagi. Mereka mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh kegembiraan.
Bagi warga, tradisi Rabu Wekasan juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antar keluarga dan warga.
Salah seorang warga Desa Tanggungharjo, Izzah Layyinah, mengaku senang dapat ikut melestarikan tradisi yang diwariskan leluhur tersebut.
“Kami sangat senang mengikuti tradisi yang telah diwariskan sejak dulu,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan itu tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kasih sayang dan keharmonisan.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Sekar











