BLORA, Harianmuria.com – Sebanyak 4.000 petani hutan di Kabupaten Blora akan mendapat bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pengembangan agroforestry. Program tersebut dijadwalkan mulai bergulir pada September 2026.
Bantuan tersebut berasal dari CSR Pupuk Indonesia yang menyasar lahan perhutanan sosial seluas sekitar 2.000 hektare di 11 desa dan tiga Kelompok Tani Hutan (KTH).
Wakil Ketua DPRD Blora, Lanova Candra Tirtaka, mengatakan seluruh lokasi penerima telah melewati proses verifikasi teknis. Menurutnya, nilai bantuan yang akan dikucurkan cukup besar.
“Kick off direncanakan September mendatang. Targetnya sekitar 4.000 petani akan menerima manfaat,” kata Lanova saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) KTH Masjid Baitur Mulyo di Kecamatan Sambong, Selasa, 4 Agustus 2026.
Lanova berharap program tersebut mampu memperkuat pengembangan agroforestry sekaligus mengembalikan fungsi kawasan hutan agar semakin produktif dan lestari.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, mendorong petani hutan tidak hanya mengandalkan hasil panen jagung.
Pihaknya mengajak petani hutan di Blora mulai mengembangkan usaha peternakan ayam petelur dan budidaya ikan lele sebagai sumber pendapatan baru.
Bahkan, ia berjanji akan mengupayakan tambahan bantuan melalui program CSR.
“Saya akan berupaya mencarikan dukungan CSR untuk bantuan bibit lele, ayam maupun kebutuhan lainnya. Harapan saya, setiap rumah nantinya bisa memelihara sekitar 50 ekor ayam petelur sehingga mampu menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Menurut Rini, peluang pengembangan perhutanan sosial di Blora sangat besar. Pasalnya, sekitar 60 persen wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan negara.
Oleh karena itu, ia menilai pengelolaan hutan harus mampu berjalan beriringan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Penyuluh Pendamping KTH Masjid Baitur Mulyo, Agung Wibowo, mengatakan petani yang selama ini menanam jagung mulai diarahkan ke tanaman buah sebagai investasi jangka panjang.
Ia juga mengingatkan agar limbah batang jagung tidak dibakar karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman buah yang sudah ditanam.
“Kami mengusulkan penanaman tanaman buah seluas 50 hektare tahun ini. Semoga seluruh anggota dapat merawatnya dengan baik,” katanya.
Agung menambahkan, KTH Masjid Baitur Mulyo saat ini mengelola kawasan perhutanan sosial seluas 759 hektare dengan izin selama 35 tahun. Namun, izin tersebut akan dievaluasi secara berkala sehingga seluruh anggota diminta tetap mematuhi ketentuan pengelolaan kawasan hutan.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











