Harianmuria.com – Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut yang dialami sejumlah anak di Indonesia tengah menjadi perhatian dari banyak kalangan. Tercatat ada 206 anak yang mengalami gangguan ginjal akut misterius dari Januari 2022. Bahkan telah ada 99 kasus kematian akibat penyakit ini.
Penyakit gagal ginjal sendiri merupakan kondisi dimana ginjal gagal melakukan fungsi atau pekerjaannya, yakni menyaring darah dari limbah-limbah metabolisme. Sehingga mengakibatkan penumpukan racun, mineral serta air berbahaya di dalam darah dan pada akhirnya menyebabkan kematian.
Gagal ginjal sendiri terbagi menjadi dua, yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronik. Gagal ginjal akut terjadi ketika ginjal tiba-tiba berhenti menyaring produk limbah, atau penyakit ginjal yang timbuk mendadak dalam waktu begitu singkat.
Sedangkan gagal ginjal kronik perkembangannya perlahan dan berangsur memberat dengan sedikit gejala pada tahap awal, atau adanya gangguan pada struktur atau fungsi ginjal selama >3 bulan.
Menurut dr. Eka Laksmi Hidayat, Sp.A(K), Devisi Nefrologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, gangguan ginjal pada anak gejalanya meliputi:
- Kedua kaki bengkak simetris di kiri dan kanan
- Adanya darah dalam urin, baik secara kasat mata maupun mikroskopik (tidak kasat mata)
- Peningkatan jumlah leukosit (sel darah putih) pada urin (>5 sel/LPB)
- Peningkatan pengeluaran protein melalui urin
- Penurunan produksi urin <1 ml/kgBB/jam
- Tekanan darah sistolik dan/atau diastolik ≥ persentil 95 TD sesuai usia anak, atau >130/80
- Gangguan pertumbuhan
- Pucat (anemia)
- Kelainan tulang
- Sesak
- Demam berulang
Seperti yang terjadi baru-baru ini, publik digegerkan dengan penyakit gagal ginjal akut anak misterius. Sampai-sampai dikeluarkannya imbauan dari Kementerian Kesehatan untuk menghentikan pemberian obat sirup jenis appaun pada anak yang sakit.
Tentunya imbauan ini bukan tanpa sebab, hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan adanya kandungan etilon glikon dan glikol yang diduga menjadi sebab dari gangguan gagal ginjal anak.
Sementara gagal ginjal akut ini disebut memiliki gejala seperti berkurangnya frekuensi kencing anak, penurunan produksi urin bahkan sampai berhenti. Meskipun demikian berdasarkan banyaknya laporan, gejala dari penyidap gangguan gagal ginjal akut ini meliputi mual dan muntah, diare, pilek, selain dari berkurangnya intensitas air urine anak tadi.
Sedangkan sementara ini, pihak Kemenkes dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau kepada tiap orang tua untuk membawa anaknya ke rumah sakit jika sudah menemukan gejala-gejala gagal ginjal akut anak, agar dilakukan pemeriksaan sedini mungkin. (Harianmuria.com)











